Agar Bisnis Sehat, Memilih Klien yang Tepat Jadi Hal Wajib
A- A+

Dalam sebuah bisnis, klien punya peran peran. Kepuasan mereka menjadi salah satu penentu kesehatan bisnis. Oleh karena itu, kamu harus mampu menjawab kebutuhan klien.

Agar bisnis langgeng, selain mampu menjawab kebutuhan klien, kamu juga perlu memilih klien. Sebab, mendapat klien yang 'salah' bisa menghambat kemajuan bisnis. Alih-alih mendapat untung, kamu bisa keluar biaya dan tenaga lebih besar dari seharusnya.

Untuk menghindari mendapat klien yang 'salah', simak pertimbangan ini seperti dilansir Okezone.

Sesuai Kapasitas

Tantangan kerja akan terjawab bila berada dalam kapasitas. Bila berada di luar kapasitas, bisnis bisa mendapat kesulitan di kemudian hari. Analoginya, sebagai ahli manajemen bisnis, belum tentu kamu juga ahli manajemen media sosial.

Oleh karena itu, bila klien meminta layanan di luar kapasitas, tegaslah menolak. Bila nekat menerima, ada risiko klien kecewa bila kamu tak bisa memenuhi harapan. Klien yang tak puas ini nanti akan cenderung menjadi duri dalam bisnis.

Tak Punya Nilai Bisnis

Berkaca dari pengalaman, banyak pebisnis pemula fokus mencari keuntungan hingga melupakan nilai bisnis. Hal ini akhirnya membuat mereka kerap mengubah model bisnis. Padahal, hal ini bisa mengurangi nilai bisnis.

Dampaknya, dalam jangka panjang akan mengancam kelangsungan bisnis itu sendiri. Karenanya, pahami pentingnya nilai bisnis dan belajarlah mempertahankannya. Seiring waktu, kamu akan sadar bahwa nilai bisnis lebih penting dari mencari keuntungan semata.

Bila ada klien yang tak sesuai nilai bisnis itu, lebih baik tolak tawaran klien.

Kualitas Klien Tergantung Komitmen

Jika kamu serius pada bisnis yang kamu jalani, kamu akan menemukan klien yang juga serius bekerja sama. Jika kamu selektif memilih klien, niscaya kamu akan mendapat klien yang terbaik pula.

Klien semacam ini akan membantumu mendapat hasil sesuai keinginan. Jika sudah berkomitmen, jangan lupa hitung risiko kegagalannya. Kemudian, jelaskan risiko itu pada mereka. Jika ternyata klien tidak siap menerima prediksi risiko itu, sebaiknya lepaskan.

Tak Siap Berkomitmen

Beberapa klien butuh waktu untuk berpikir soal kerja sama. Klien semacam ini punya komitmen panjang dan waktu untuk memberi penjelasan. Sayangnya, mereka tidak terbiasa dengan perintah langsung.

Hal ini bukan berarti mereka tak nyaman bekerja denganmu, mereka hanya tak terbiasa dengan perintah. Jadi, carilah jalan tengahnya.

Jangan Acuhkan Intuisi

Meski bisnis berjalan dengan logika, jangan abaikan intuisi, terutama dalam memilih klien. Intuisi adalah panduan penting menentukan klien yang tepat. Pebisnis pemula sering memilih mengabaikan perasaan dan berakhir dengan klien yang buruk.

Jika kamu merasa klien tersebut berusaha memutuskan jalinan komunikasi, maka selidikilah. Jika kamu menemukan kejanggalan saat kerjasama mulai berjalan, maka uraikanlah.

Bila segala upaya sudah kamu lakukan namun masalah tak kunjung selesai, solusinya adalah menghentikan bisnis. Katakan 'tidak' pada klien yang salah dan berilah ruang untuk pelanggan yang tepat.