Banyak Pelaku Bisnis Daring Mulai Masuk Ranah Luring
A- A+

Meski persaingan di ranah daring (online) kian ketat, bisnis e-dagang diyakini terus bertumbuh dan masih punya potensi yang besar. Namun kini, ada perkembangan yang menarik dari industri ini.

Saat ini, makin banyak pelaku e-dagang yang mulai masuk ranah luring (offline). Strategi semacam ini lebih dikenal sebagai online to offline (O2O). Salah satunya adalah Alfacart yang sudah mulai menerapkan strategi ini sejak tahun lalu.

Direktur Bisnis Internasional dan Teknologi Alfacart Bambang Setiawan Djojo mengaku kini sudah mulai memanfaatkan toko fisik yang ia miliki. Pemanfaatan ini baik untuk keperluan drop off hingga pembelian.

“Kami yakin bahwa daring dan luring bisa berjalan berdampingan,” katanya.

Loket.com pun juga menjadi salah satu perusahaan lain yang menerapkan strategi O2O tersebut dalam bisnisnya. “Ini merupakan cara yang kami lakukan untuk membuat para pelanggan merasa nyaman dan dimanjakan,” ungkap CFO Loket.com Emi Surya Dewi.

Meski demikian, ia mengakui bahwa untuk bisnis Loket.com, gerbang pembayaran merupakan salah satu tantangan yang perlu ia hadapi. Sebab, sifat alami bisnis platform tiket itu padat transaksi pembayaran.

Otomatis memerlukan gerbang pembayaran yang andal. “Bila sedang ramai, gerbang pembayaran kami tidak mampu mengatasinya. Ini masalah teknis yang sering terjadi di kita,” kata Emi yang saat ini memang sedang mencari solusi gerbang pembayaran yang andal.

Untuk urusan pelayanan, Bambang sepakat dengan Emi. Penerapan strategi O2O adalah langkah untuk menjaga loyalitas konsumen. “Pengalaman pelanggan sangat mempengaruhi keputusan mereka dalam mengambil keputusan untuk pembelian,” ungkap Bambang.

Bagi Pendiri dan CEO Go-Jek Nadiem Makarim, mata uang dalam model O2O di Go-Jek adalah kepercayaan. “Sebagai platform on-demand, jualan utama Go-Jek adalah kepercayaan. Jadi, ketika pelanggan pesan layanan kami, itu sudah berdasarkan kepercayaan,” katanya.

Dalam kasus Go-Jek, kepercayaan antara mitra Go-Jek dengan pelanggan ini yang akhirnya membuat perusahaan tersebut bisa terus berkembang. “Kita sudah berevolusi dari sekadar aplikasi transportasi menjadi sebuah platform on-demand,” pungkasnya.