Belajar dari Kesuksesan Airbnb Sewakan Kamar Orang Lain (2)

Belajar dari Kesuksesan Airbnb Sewakan Kamar Orang Lain (2)

Meski kini menjadi salah satu usaha rintisan sukses, Airbnb pernah mengalami masa pasang surut.  Airbnb hampir bangkrut pada 2009. Brian Joseph Chesky, Joe Gebbia dan Nathan Blecharczyk pernah lima kali meresmikan Airbnb dan tak ada satu orang tahu.

Mereka juga gagal mendapat investor. Pendapatan hanya US$200 per minggu. Maka, di suatu sore, Joe menyadari sesuatu. Sebanyak 40 daftar kamar yang ada di Airbnb punya foto kamar yang jelek.

"Foto mereka menggunakan kamera ponsel atau dari situs iklan baris," katanya. Joe bersama Paul Graham, konsultan Y Combinator, terbang ke New York. Dia memperbaiki semua foto amatiran menjadi gambar indah. Dia tidak tahu apa maksud hal ini.

Seminggu kemudian, peningkatan kualitas gambar ini berhasil meningkatkan pendapatan dua kali lipat menjadi US$400 per minggu. Peningkatan ini adalah yang pertama dalam delapan bulan terakhir.

Joe menyebut langkah ini merupakan salah satu titik balik dalam membangun usahanya. Saat ini, Airbnb menjadi salah satu usaha rintisan prestisius. Penemuannya menginspirasi banyak orang menyewakan kamar atau rumah kosongnya.

Fitria Utami, seperti dilansir Kompas, memulai bisnis ini di 2014. Dia menyewakan dua kamar kosong milik orangtuanya di kawasan Cipinang, Jakarta Timur. Selain kamar, dia menyediakan kamar mandi pribadi, sarapan pagi, internet dan televisi kabel.

Di samping itu, dia juga menyiapkan peta Transjakarta dan Commuter Line untuk mempermudah transportasi bagi tamunya. Bisnis Fitria juga memberi dampak positif ke lingkungan.

"Tukang pulsa di dekat rumah sudah menyediakan petunjuk dalam bahasa Inggris untuk membantu wisatawan. Tukang makanan juga laku, apalagi kalau tamunya suka makanan Indonesia," kata Fitria.

Atas berbagai ulasan positif di laman Airbnb-nya, Fitria mendapat titel superhost atau tuan rumah super. Dia mendapat voucher US$100 untuk menginap di Airbnb di seluruh dunia.

Sari Safianti dan suaminya Laurent yang memiliki rumah di Jakarta Selatan juga memiliki kisah sama. Dia bahkan menyediakan makanan kecil dan kartu pembayaran elektronik gratis untuk tamunya.

Sari juga menerapkan waktu masuk yang fleksibel pada tamunya, tidak seperti hotel. Kendati begitu, di Jepang, pemerintahnya mempermasalahkan status hukum Airbnb. Karena itu, Jepang ingin membuat regulasi ketat terkait penyewaan properti ini.

Padahal, pelaku usaha menginginkan yang sebaliknya demi kemudahan wisatawan. Penginapan nonhotel, menurut pemerintah, harus memiliki izin agar tidak ada masalah yang terjadi di kawasan pemukiman.

MORE FROM MY SITE