Benarkah Turunnya Daya Beli Membuat Bisnis Melambat?

Benarkah Turunnya Daya Beli Membuat Bisnis Melambat?

Buat kamu pelaku bisnis, bagaimana kondisi bisnismu tahun ini? Banyak yang mengeluh bahwa kondisi ekonomi serta daya beli masyarakat yang sedang turun membuat bisnis menjadi ikut turun. Namun, benarkah hal ini yang terjadi?

Pengamat Ekonomi dan Pendiri Inventure Yuswohady tidak sepakat. Setidaknya, selama tiga tahun terakhir, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi masih tinggi, yakni mencapai 5%. Hingga kuartal II 2017, konsumsi domestik, khususnya rumah tangga, masih menjadi penggerak pertumbuhan, selain investasi dan ekspor.

"Saya tidak sepakat dengan adanya penurunan daya beli. Tidak ada di Indonesia. Saat ini, yang terjadi adalah pergeseran konsumsi masyarakat, dari yang semula berbasis kepemilikan barang (goods) menjadi berbasis pengalaman (experience). Di Indonesia, sedang ada pergeseran itu," kata Yuswohady di Entrepeneur Talk 2018 dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA).

Perubahan pola konsumsi ini, lanjutnya, menyebabkan konsumsi masyarakat untuk membeli bahan makanan pokok, fesyen, peralatan rumah tangga dan perumahan turun. Pertumbuhan industri manufaktur seperti otomotif juga tumbuh stagnan, cenderung melambat.

Di sisi lain, internet, usaha rintisan dan e-dagang malah tumbuh signifikan. Melihat tren ini, banyak pihak akhirnya menyatakan bahwa tren tersebut sebagai biang keladi perlambatan bisnis.

"Sejak beberapa tahun terakhir, generasi milenial yang lahir antara 1980-2000 menguasai pasar. Secara karakter, mereka sangat berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Kaum milenial adalah mereka yang menganut pola konsumsi berbasis pengalaman," lanjut Siwo, panggilan akrab Yuswohady.

Bila generasi sebelumnya, generasi X, lebih mementingkan kepemilikan barang seperti mobil dan rumah misalnya, tidak demikian dengan generasi milenial. Pola konsumsi generasi milenial, katanya, berbasis pengalaman (experience), ingin dilihat (sosial) dan terhubung (connection).

"Untuk makan misalnya, mereka lebih senang mencoba kafe baru yang unik. Setelah itu, mereka merasa penting untuk mengunggah pengalaman tersebut di Facebook dan Instagram. Perkembangan hotel dan penerbangan yang murah juga memicu travel boom. Semua orang ingin pergi liburan," tambahnya.

Bagaimana menghadapi pergeseran pola konsumsi ini, bisnis apa yang akan terus bertahan dan berkembang di tahun depan?

"Dua bisnis yang akan berkembang adalah digital economy dan bisnis leisure (waktu senggang). Tahun depan akan menjadi saat konsolidasi bagi bisnis seperti Grab dan BlueBird. Sementara bisnis leisure akan mengarah pada kustomisasi," pungkasnya.

Sudah siap menghadapi bisnis tahun depan?

MORE FROM MY SITE