Dari Awak Kapal, Hengky Sukses Bangun Bisnis Pelayaran (1)
A- A+

Kesuksesan memang butuh perjuangan. Hengky Suryawan membuktikannya sendiri. Ia berhasil menaklukan industri pelayanan dan shipyard di Tanah Air. Awalnya, Hengky bukanlah orang paham betul soal industri ini.

Namun, semua pengetahuan yang ia butuh ia peroleh sendiri. Ia terjun langsung ke lapangan, diawali dengan menjadi awak kapal. Hengky bukan berasal dari keluarga yang berada.

Namun, kondisi ini membuatnya terpacu untuk bekerja keras. Tugas Hengky kala itu adalah ‘olie man’ yang menjaga mesin. Pada 1971, pria yang menjadi tokoh masyarakat Kota Tanjung Pinang ini akhirnya memberanikan diri membeli kapan.

Saat itu, modal yang Hengky miliki hanya Rp1 juta dari hasil bekerja dan sisa Rp1,5 juta ia dapat dari kredit bank.

”Saya beli satu kapal itu masih terbuat dari kayu. Kalau dahulu itu disebutnya cincu kapal, pemilik sekaligus pengurus kapal,” ungkap pria yang kini sudah memiliki perusahaan sendiri, PT Pelayaran Nasional Bahtera Bestari Shipping dan PT Bahtera Bahari Shipyard.

Perjalanan Henry tak selalu mulus. Ia pernah mengalami masa sulit dan menghadapi banyak tantangan. Dalam bisnis pelayaran, tantangan tak hanya soal pasar, juga soal kondisi alam dan kendala di tengah laut.

Pada 1972, saat teknologi tak secanggih saat ini, kapal milik Hengky rusak. Tepatnya ketika kapal sedang berlayar dari Tanjung Pinang ke Jakarta, dengan jarak tempuh total 500 mil. Namun, saat perjalanan baru mencapai 220 mil, di sekitar Selat Berhala, bagian kipas kapal rusak.

Satu-satunya cara memperbaikinya adalah dengan menyelam dan mengganti bagian kipasnya. ”Itu saya ikut menyelam. Padahal saya tidak pandai berenang. Saya menyelam pakai tali, karena takut hanyut, itu di laut besar,” papar Hengky.

Tak lama setelah kipas diganti, kondisi kipas kembali rusak saat memasuki Selat Bangka. Keadaan tersebut membuat kapal milik Hengky hanyut terbawa gelombang laut. Kemudian, mau tidak mau Hengky harus ikut turun menggunakan kapal sekoci untuk mencari bantuan bersama dua orang awak kapalnya.

Maksud hati meminta pertolongan, sekoci tersebut justru ikut hanyut hingga ke selat besar. Beruntung, Hengky ditolong oleh kapal nelayan. Begitu pula dengan kapal besar miliknya yang hanyut turut serta dibantu oleh nelayan untuk merapat ke Tobuali.

”Padahal cuma 20 mil, jaraknya dekat. Tetapi karena ombak dan angin kuat, kita tidak bisa melawan angin. Siang malam saya hanyut terombang-ambing di laut lepas,” kenang Hengky.

Di Tobuali, masa sulit kembali dialami Hengky. Setidaknya selama satu bulan, Hengky dan 14 kru kapal berada di Tobuali menunggu perbaikan kapal. Komoditi kopra yang seharusnya dibongkar di Jakarta terpaksa harus dibongkar muat barang dahulu di Tobuali.

”Itu masa sangat sulit yang pernah saya alami. Untuk makan kru saja saya nggak punya uang. Saya jual jam tangan dan cincin untuk kru makan,” tambah Hengky.

Berlanjut ke bagian kedua untuk kisah ekspansi dan persiapan generasi penerus perusahaan.