Kemewahan Tak Lantas Datang Ketika Perusahaan Makin Besar

Kemewahan Tak Lantas Datang Ketika Perusahaan Makin Besar

Banyak pengusaha sukses merintis usaha dari garasi rumahnya, seperti kisah Steve Jobs dan Apple. Kali ini, kisah serupa datang dari Chieh Huang dan rekannya yang mendirikan grosir daring (online) Boxed pada 2013 di garasi orang tuanya di New Jersey, Amerika Serikat (AS).

Boxed menjual tisu toilet, biskuit, dan beraneka ragam barang lain secara grosir. Ia pun tak pernah menyangka bisnisnya akan tumbuh pesat. "Pada 2013, pendapatan kami baru sekitar US$40 ribu. Kemudian, menjadi US$100 juta pada tiga tahun kemudian. Naik turun sejak awal perusahaan berdiri memberikan banyak pelajaran," ungkapnya.

Perusahaan yang kini punya 400 karyawan dan beroperasi di seluruh negara bagian AS ini juga berhasil mendapat pendanaan sebesar US$160 juta. Chieh mengaku, bermain di e-dagang dengan menjual barang secara grosir membuat perusahaannya mampu bertahan di era dominasi Amazon.

“Untungnya, bisnis yang kami bangun memiliki beberapa kekuatan alami. Hingga kini, tidak ada perusahaan lain yang benar-benar memiliki bisnis seperti kami (berjualan grosir). Hal inilah yang membuat posisi terus menjadi perhatian pemain ritel lainnya,” katanya.

Chieh pun mengungkap beberapa poin yang membuat Boxed sukses.

Fokus

Menurut Chieh, Boxed sangat fokus dan tidak berusaha menjual segala hal seperti Amazon. Gantinya, Boxed menjual barang secara grosir atau paket seukuran gudang. “Kami menyadari, disiplin dalam menjual barang secara grosir merupakan cara yang lebih baik dalam membangun bisnis yang besar,” katanya.

Sebab, lanjut Chieh, strategi ini membuat Boxed mampu fokus melakukan pembelian pada inventaris tertentu. Hasilnya, perusahaan bisa mendapat harga yang kompetitif dan menjual barang tersebut dengan harga lebih murah pada konsumen.

Canggih

Boxed sangat mengandalkan robot untuk menjaga agar biaya operasional tetap rendah dan memprediksi kebutuhan konsumen. “Ini merupakan pusat pemenuhan kebutuhan konsumen paling canggih di dunia,” katanya.

Adil

Meski perusahaan menggunakan robot, bukan berarti karyawan manusia kehilangan pekerjaan. “Kami memegang teguh tujuan perusahaan dan mengatakan pada karyawan bahwa mereka tidak akan kehilangan pekerjaan hanya karena otomatisasi yang terjadi. Gantinya, kami melatih karyawan agar mampu mengatasi masalah bila ada masalah dengan robot,” paparnya.

Hemat

Meski baik pada karyawannya, perusahaan tak lantas memanjakan mereka. “Kami adalah perusahaan yang sangat hemat,” katanya. Untuk perjalanan bisnis ke Dubai, Jerman, London, misalnya, Chieh mengaku selalu terbang dengan pesawat kelas ekonomi.

“Kebijakan untuk hemat ini yang selalu kami pegang. Ketika perusahaan menjadi besar pun, tak lantas kami menerima kemewahan sebagai perusahaan besar,” pungkas pria berupa 36 tahun itu seperti dikutip CNBC.

MORE FROM MY SITE