Kenali Peluang Bisnis F&B di Tanah Air Sebelum Menggelutinya
A- A+

Membicarakan bisnis memang tidak akan ada habisnya. Sayangnya, jumlah pengusaha di Indonesia masih jauh dari kata ideal. Idealnya, jumlah pengusaha di suatu negara adalah 2 persen dari total jumlah penduduk.

Menurut Global Entrepreneurship Monitor (GEM), saat ini jumlah pengusaha di Indonesia baru mencapai 1,65% dari total polulasi. Artinya, ada banyak peluang yang sebenarnya masih bisa digali.

Membicarakan peluang, tentu ada banyak pilihan bisnis dari berbagai sektor. Sektor makanan dan minuman (F&B) misalnya. Sektor ini punya daya tarik tersendiri. Sebab, semua orang butuh makan. Terlebih lagi, sektor ini tampak terus mengalami peningkatan sejak 1998 lalu.

“Saat itu, Indonesia mengalami krisis dan banyak perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karena dinyatakan bangkrut. Untuk bertahan, salah satu cara yang bisa ditempuh adalah dengan mendirikan bisnis lagi. Bisnis makanan dinilai paling potensial karena tak butuh modal besar,” ungkap Head of Marketing Resto Concept Ismaya Group Poppy Imlati.

Poppy melanjutkan, momen ini mengawali era menjamurnya warung tenda. Seiring berjalannya waktu, tren tersebut terus mengalami perkembangan. “Bila dulu banyak warung tenda, kini foodtruck mulai menjamur,” katanya di acara BCA Young Community di Publik Markette, Selasa, 5 September 2017.

Tak heran bila persaingan di sektor F&B menjadi kian ketat. Buktinya, tiap ada bazar di mal, tenant makanan selalu mendominasi. “Bahkan, pertumbumbuhan merek makanan yang ada juga sangat pesat. Tiap hari bisa muncul setidaknya 10 merek baru,” ungkap Poppy.

Ditambah lagi, gaya hidup masyarakat terus mengalami peningkatan dan jumlah kelas menengah terus bertambah. “Kira-kira 50 persen populasi kita masuk usia produktif. Mereka ini lebih teredukasi dan lebih pintar memilih merek. Selain itu, mereka juga punya daya beli yang kuat. Karena itu, kita harus cerdas ketika menyasar mereka,” kata Poppy.

Cara termudah membuktikannya adalah melalui media sosial. Poppy mengungkap, media sosial kini menjadi sarana yang mampu menunjang eksistensi seseorang. Karena itu, media sosial bisa menjadi tempat untuk melihat tren apa yang sedang ramai di kalangan kelas menengah ini.

“Kita bisa memanfaatkan media sosial untuk mendapatkan ide atau mencari sosok yang memang punya pengaruh, kemudian mengajaknya bekerja sama. Seperti Anakjajan yang menjadi satu-satunya blogger makanan di Asia pada 2012. Mereka tentu bisa sangat berguna bagi merek kita,” pungkas Poppy.