Kunci Tan Wijaya Sukses Bangun Bisnis di Industri Karoseri
A- A+

Istilah karoseri masih terdengar asing bagi sebagian orang. Hanya mereka yang memang berkecimpung langsung dan sering berhubungan langsung dengan pemain di industri tersebut yang mengetahuinya.

Karoseri merupakan industri yang bergerak di bidang pembuatan rumah-rumah mobil, seperti angkutan umum atau angkutan kota, bus, bus mikro, ambulance, dump truck, wing box dan lain-lain.

Di Sukabumi, CV Buaran Perkasa Motor merupakan salah satu pemain kuat. Adalah Tan Wijaya yang akrab disapa Tanu, yang menjadi pendiri sekaligus pemimpin di perusahaan ini.

Berawal dari hobi di dunia otomotif dan pengalaman enam tahun bekerja di industri karoseri, Tanu mendirikan perusahaan ini setelah melihat adanya peluang usaha di industri tersebut.

“Kebutuhan angkutan orang atau barang di Indonesia cukup besar disebabkan wilayah Indonesia sangat besar. Oleh karena itu, saya pun memutuskan mendirikan usaha di bidang karoseri,” ujar pria yang mengidolakan Bill Gates ini.

Proses adaptasi pun tidaklah susah karena industri ini sudah sangat ia kenal. Bermodalkan tanah seluas 550 meter persegi di kawasan Pabuaran, Sukabumi, akhirnya pada 10 Juli 2001, Tanu mendirikan perusahaan ini seorang diri.

Beberapa tahun kemudian, akhirnya sang istri, Lilyana Thedy, ikut serta membantu di keuangan. “Saat mengawali bisnis ini, saya menjalankannya dengan modal seadanya, sesuai dengan prinsip hidup saya, yaitu tidak ngoyo,” ujarnya.

Dari awal berdiri, Tanu mendapat penawaran untuk membuat satu unit kendaraan komuter untuk keperluan salah satu tempat wisata di daerah Puncak. Ia ingat, saat itu tidak ada perusahaan lain yang mau mengerjakannya karena pengerjaannya terlalu rumit.

Kemudian, tanpa ragu, Tanu pun mengambil proyek tersebut. Berawal dari sini, Akhirnya, banyak penawaran berdatangan untuk mengerjakan karoseri sejenis dan juga karoseri lainnya.

2

“Bila di awal berdiri kapasitas produksi hanya satu unit. Kini sudah mencapai 300 unit yang bisa diserap per bulannya, terdiri dari bermacam-macam jenis karoseri kendaraan, seperti angkutan umum, ambulance, dump truck, boks, bak, wing box, bus, bus mikro, tangki air/CPO/BBM, juga mobil-mobil khusus untuk keperluan pemerintah seperti armroll, dalmas, mobil penerangan dan lain-lain. Jadi, pasar sudah merambah ke seluruh Indonesia,” paparnya.

Tanu mengakui, jaringan teman (networking) menjadi kunci yang membuatnya bisa sukses seperti saat ini. Menurut Tanu, berkat teman, peluang untuk ia mendirikan usaha terbuka lebar.

Vendor pertama yang menjadi klien perusahaannya, AUTO2000, juga terbuka berkat bantuan teman. Setelah AUTO2000 melakukan survei, Tanu mendapat kepercayaan dari perusahaan yang masuk dalam grup Astra tersebut.

Tanu pun berkomitmen memberi produk dengan kualitas bagus. Selain itu, prinsip bisnis ajaran orang tua Tanu untuk selalu jujur, kerja keras dan pantang menyerah juga ia pegang untuk membantu mencapai kesuksesan.

“Jujur adalah cara untuk mendapat kepercayaan (dari klien), kerja keras untuk membantu mendapatkan keinginan dan pantang menyerah dalam menjalankan usaha,” katanya.

3

Alhasil, ada tiga Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) yang mempercayakan produksi karoseri mobilnya pada perusahaan Tanu. ATPM tersebut adalah Auto 2000 (Toyota), Astra Isuzu, dan Indomobil (Suzuki).

Kini, setelah sukses menjalankan bisnis di industri karoseri, Tanu berencana mengembangkan bisnisnya lebih jauh. Untuk industri otomotif, ia akan melebarkan sayap di bidang perbaikan bodi mobil.

Selain itu, ia akan membuat bisnis kemitraan dalam perbaikan bodi mobil, bersama temannya. Saat ini bisnis kemitraan ini sudah bertambah satu cabang di Subang.

“Tahun depan, target saya bisa membuka lima cabang baru di beberapa kota di Indonesia,” kata pria yang memiliki seorang putri ini. Tak berhenti disitu saja, Tanu juga melebarkan sayap dengan mendirikan usaha di bidang biro perjalanan dan hotel.

Ketika ditanya, apakah sudah menyiapkan calon penerus perusahaan, Tanu mengaku sudah menyiapkan putri tunggalnya, Ines Claudia Tan Wijaya, sebagai penerusnya.

“Kebetulan, ia baru lulus kuliah dan sudah mulai turun ke bisnis ini. Dia sudah mulai belajar. Saya berharap dia bisa menggantikan saya untuk menjadi generasi kedua,” katanya.

Di sisi lain, sang istri, Lilyana menyebutkan, meski status keduanya adalah suami-istri, mereka sebisa mungkin tidak mencampur urusan rumah tangga dan bisnis. “Ini sudah menjadi komitmen kami sejak awal. Bapak fokus untuk urusan lapangan dan pemasaran, saya fokus di bagian keuangan,” katanya.

Segala urusan terkait bank, pembayaran dan keuangan menjadi tanggung jawab Lily. Dalam urusan ini, Lily memercayakan semua aktivitas perbankan pada PT Bank Central Asia Tbk (BCA).

Menurutnya, banyak fasilitas BCA yang memberinya kemudahan. “Fasilitas yang paling sering saya gunakan adalah Internet Banking, KLikBCA Bisnis. Saya tak perlu lagi sering-sering ke bank, karena semuanya bisa saya lakukan di rumah,” ujarnya.