Langkah Strategis Agen Perjalanan Bertahan Hadapi Disrupsi

Langkah Strategis Agen Perjalanan Bertahan Hadapi Disrupsi

Internet, ponsel pintar dan aplikasi telah mengubah proses bisnis. Dulu, bila ingin berlibur, orang akan pergi ke agen perjalanan (travel agent). Sekarang, orang cukup membuka aplikasi perjalanan, memilih moda transportasi dan hotel sesuai anggaran.

Pola semacam ini tentu membuat agen perjalanan menghadapi tantangan tersendiri. VP Brand & Communication Panorama Group AB Sadewa menyebut, pihaknya tak mau tinggal diam hadapi hal ini, apalagi, generasi muda (milenial) saat ini menguasai pasar dan mereka suka berkunjung ke tempat-tempat baru.

"Dalam bisnis ini, komponen utama ada tiga, penerbangan, hotel dan makanan. Marginnya cukup besar. Adanya beberapa aplikasi sempat membuat kami kaget. Akhirnya, kami membuka e-dagang liburan yang memungkinkan mereka merancang pola liburannya," kata Sadewa.

Lalu, apa cara itu langsung membawa sukses? Diakuinya, masih butuh waktu. Sebab, meski Panorama sudah punya merek dan reputasi kuat, konsumen tak akan serta merta pindah. "Mereka cuma peduli yang penting bisa berangkat liburan," tambahnya.

Namun, eksistensi Panorama di bisnis ini sudah teruji. Panorama pernah ikut merasakan terpuruknya ekonomi akibat krisis pada 1998. Karena itu, ledakan aplikasi yang mempermudah konsumen mengatur perjalanan tak membuat perusahaan ini tinggal diam.

Salah satu bisnis yang akan dibidiknya adalah tren bleisure (business leisure) atau perjalanan yang menggabungkan perjalanan bisnis dengan wisata.

"Dalam tren bisnis leisure, kami fokus menjadi perusahaan yang memberi pelayanan secara kustomisasi. Kita tidak bisa bohong bahwa bisnis itu yang memberi margin keuntungan lebih tebal," lanjut dia.

Pakar Manajemen dan Co-Founder Inventure Yuswohady menambahkan, di tahun depan, bisnis yang berkembang adalah yang berbasis digital dan leisure economy. Digital ekonomi, katanya, adalah bisnis berbasis teknologi seperti Grab dan Gojek.

Produk dari tipe bisnis ini akan bersifat massal dan murah. Kelemahannya, mereka tidak membangun kultur dalam pelayanan.

"Di sisi lain, pemain-pemain lama akan mencoba bertahan dengan pelayanan yang bersifat kustomisasi. Mereka juga lebih mengedepankan pengalaman, emosional dan kesan subjektif. Produk bisnis jenis ini biasanya memasang harga lebih mahal dibanding produk massal sehingga keuntunganya lebih tebal," pungkas Yuswohady di UKM Outlook 2018 dari BCA belum lama ini.

MORE FROM MY SITE