Perjalanan Sukses Tokoh-tokoh di Balik Bisnis Media Cetak Nasional

Perjalanan Sukses Tokoh-tokoh di Balik Bisnis Media Cetak Nasional
Perjalanan Sukses Tokoh-tokoh di Balik Bisnis Media Cetak Nasional

Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat telah menghadirkan perubahan di tengah masyarakat dalam hal mengonsumsi berita.

Media cetak, baik berupa koran maupun majalah, yang dulu menjadi andalan untuk mendapatkan berita berangsur mulai ditinggalkan. Kini, masyarakat lebih suka membaca beria secara online karena dianggap lebih update dan praktis.

Namun demikian, meski teknologi serba online mulai merajai, beberapa media cetak masih memiliki tempat tersendiri di masyarakat. Dalam rangka Hari Pers Nasional pada 9 Februari, ada baiknya kita mengenal para tokoh di balik media cetak nasional yang sejak puluhan tahun lalu berusaha menghadirkan produk jurnalistik berkualitas yang dapat dipercaya oleh para pembacanya.

Jakob Oetama (Kompas Gramedia)

Jakob Oetama merupakan pendiri dan pemilik kelompok usaha Kompas Gramedia. Pada 1955 Jakob memulai kariernya di bidang media saat menjadi redaktur mingguan Penabur di Jakarta. Ia kemudian masuk Perguruan Tinggi Publisistik di Jakarta dan Fakultas Sosial Politik di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Kedua studi beda kota itu berhasil diselesaikan dengan baik pada 1959 dan 1961.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Jakob kian serius di dunia jurnalistik dengan mendirikan majalah Intisari pada 1963 bersama sahabatnya, Petrus Kanisius Ojong (PK Ojong). Tak puas hanya dengan Intisari, pada 28 Juni 1965, keduanya mendirikan Kompas, salah satu harian populer di Tanah Air.

Kompas hadir dengan jargon "Amanat Hati Nurani Rakyat" menampilkan diri dalam gaya yang kalem. Di awal penerbitannya, Kompas beroplah kecil dan selalu terbit terlambat akibat antre di percetakan hingga pernah mendapat julukan sebagai "Komt Pas Morgen" (baru datang esok harinya).

Namun, berkat kegigihannya, Jakob berhasil mengubah Kompas menjadi salah satu harian terbesar di Indonesia yang dapat bertahan hingga saat ini di tengah guncangan badai online yang mulai menggulung bisnis media cetak.

Perusahaan media yang dipimpin Jacob juga terus berkembang. Tak hanya, membawahi Intisari dan Kompas, kini grup Kompas Gramedia juga terjun di bidang pendidikan dengan mendirikan Universitas Multimedia Nusantara.

Soetikno Soedarjo (MRA Group)

Soetikno Soedarjo, lelaki kelahiran 22 Agustus 1957 ini merupakan lulusan dari University of San Francisco degan gelar MBA di bidang keuangan. Sepulangnya ke Indonesia, ia sempat bekerja di Goodyear Indonesia dan pernah terjun di proyek infrastruktur pemerintah.

Namun, pada tahun 1993 ia memutuskan untuk mendirikan PT Mugi Rekso Abadi (MRA) yang merupakan induk perusahaan dari berbagai media cetak, majalah, ternama di tanah air.

Berbeda dengan Kompas yang lebih fokus kepada berita dan bisnis, media-media di bawah bendera MRA lebih fokus di bidang gaya hidup. Beberapa majalahnya laris manis di pasaran dan selalu diburu oleh penggemarnya, sebut saja Cosmopolitan dan Harper's Bazaar.

Selain media cetak, Soetikno juga melebarkan sayapnya ke bidang penyiaran radio. Hard Rock FM, I-Radio, Trax FM, dan Cosmopolitan FM, merupakan beberapa stasiun radio besar milik MRA yang masih on air menemani pendengarnya hingga hari ini.

Bram Tuapattinaya (Kartini)

Nama Abraham "Bram" Tuapattinaya mungkin tak asing lagi di industri pers nasional. Ia merupakan pendiri majalah Kartini, majalah wanita terkemuka di Indonesia. Pertama kali diluncurkan pada tahun 1972, majalah Kartini bernama Madonna, lalu berubah nama menjadi Kartini pada tahun 1974.

Pada tahun 1991 Bram berhasil membawa majalah Kartini menjadi majalah terbesar ke-3 di Indonesia. Setelah mengalami krisis inflasi pada tahun 1998, pada pada tahun 1999 Kartini kembali bangkit dengan kantor kecil dan 20.000 salin. Tak butuh waktu lama, pada tahun 2003 majalah Kartini kembali menjadi market leader dengan 115.000 salin per edisinya.

Pada tahun 2012, Bram menerima penghargaan tokoh pers 2012, yang diserahkan langsung oleh Dewan Pimpinan Serikat Perusahaan Pers Pusat, Dahlan Iskan di Jakarta. Penghargaan tersebut diberikan atas jasa, dedikasi, dan pengabdian selama 30 tahun atau lebih di industri pers nasional.

MORE FROM MY SITE