Riri Nurul Permata: Manfaatkan Sistem Khusus Agar Tidak Membuang Waktu

Riri Nurul Permata: Manfaatkan Sistem Khusus Agar Tidak Membuang Waktu

Saat ini, pendidikan memiliki peran yang sama pentingnya seperti kebutuhan hidup lainnya, yakni sandang, pangan dan papan. Karena sifat inilah, bisnis pendidikan pun akan selalu memiliki tempat dan ruang untuk tumbuh.

Sebelum akhirnya terjun ke bisnis bimbingan belajar, Riri Nurul Permata sempat menjadi staf administrasi di sebuah toko garmen setahun setelah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) di 2011.

Tak betah, ia pun akhirnya kembali mengikuti minatnya di dunia pendidikan dan terjun ke bisnis bimbingan belajar. Ia bahkan mulai merintis bisnis tersebut sejak sebelum memiliki gelar akademik tinggi.

Ide mengajar les ini, sebut Riri, terinspirasi dari ibunya yang juga merupakan seorang guru. Di rumahnya di kawasan Pademangan, Jakarta Utara, awalnya Riri merintis usaha les ini untuk anak-anak Sekolah Dasar (SD) di sekitar lingkungan rumahnya.

Berawal dari hanya empat murid pada 2014, jumlah murid Riri bertambah menjadi 20 murid kurang dari setahun. Sejak itu, bisnis bimbingan belajar bernama Tan’s Permata Ranking itu terus tumbuh, berkembang, dan kini punya lebih dari 150 murid.

Riri juga kini sudah punya lima guru lain yang membantu mengajar dan mulai fokus mengajar siswa SMP dan SMA. Karena perkembangan itu, sulung dari tiga bersaudara itu harus ikhlas kuliahnya tertunda selama dua tahun.

Riri pun sudah merancang sejumlah target untuk bisnisnya. Dia menargetkan pendapatan setidaknya Rp50 juta per bulan agar bisa terus melakukan ekspansi. Wanita berusia 23 tahun itu juga berharap bisa membuka dua sampai tiga cabang Tan’s Permata Ranking.

Selain itu, ia juga ingin mulai melakukan digitalisasi dalam proses pembayaran dan absen anak didik. Bagi Riri, bisnis bimbingan belajar ini masih punya ceruk pasar yang besar meski pemainnya makin banyak.



Salah satu kunci sukses di bisnis ini adalah mempertahankan kualitas pengajaran. Untuk itu, Smart-Money.co melakukan wawancara dengan Riri untuk mengetahui kiat-kiatnya. Berikut nukilannya.

Sebagai pemilik bisnis sekaligus mahasiswi, tentu bukan perkara mudah membagi waktu. Bagaimana kiatnya?

Saya masih tercatat sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanegara sampai saat ini. Saya mengambil kelas reguler sehingga kuliah tidak sampai malam. Di bimbingan belajar, saya mengajar sore atau malam hari.

Untuk meningkatkan kemampuan pengajaran, saya terus belajar dan membaca. Anak-anak adalah sumber inspirasi terbesar saya. Saya sering menanyakan pada mereka bagaimana metode pengajaran saya?

Apa mereka cukup jelas dan paham? Di tengah mengajar sekalipun, saya sering diam dan berpikir, bagaimana agar mereka bisa lebih paham. Saya juga terus mencari buku dan berlatih berbagai soal untuk mengetahui variasi soal.

Ada berapa banyak tenaga pengajar dan bagaimana proses seleksinya?

Kualitas guru sangat penting bagi kesuksesan bisnis bimbingan belajar. Kami mewajibkan guru yang akan mengajar memiliki pengalaman mengajar setidaknya satu tahun. Di samping itu, dia juga harus supel, sabar dan senang bicara. Hal ini penting.

Seorang guru harus bicara terus selama setidaknya 90 menit di depan kelas. Kami juga melakukan wawancara langsung kepada calon mentor (guru). Wawancaranya dua kali, terkait metode pengajaran dan juga pribadi.

Kami juga melarang mereka mengajar di tempat lain. Jam kerja guru bisa saja lebih pendek dibanding karyawan biasa. Meski begitu, energinya cukup banyak terkuras ketika mengajar. Dalam hal kualitas pengajaran, kami menetapkan beberapa parameter kesuksesan.

Misalnya, 70% anak didik harus memiliki nilai rapor setidaknya 80. Untuk nilai Ujian Akhir Nasional (UAN), kami juga menargetkan setidaknya lebih dari 50% mendapat nilai sampai 100. Bila anak-anak masih kurang paham, mereka juga bisa bertanya langsung secara pribadi.

Bila seorang guru bisa mencapai parameter-parameter tersebut, kami memberi beberapa penghargaan. Selain gaji, kami memberi bonus. Kami juga secara rutin mengadakan acara jalan-jalan setiap akhir tahun.

Bagaimana metode pemasaran yang paling pas untuk bisnis bimbingan belajar seperti ini?

Metode paling tradisional, mulut ke mulut (mouth to mouth methods). Dari awal, bisnis kami juga berkembang dengan cara ini. Anak-anak biasanya mengajak teman-teman dekatnya belajar bersama di sini.

Kami juga membuat brosur untuk sekolah-sekolah. Brosur ini kami sebarkan khususnya pada sekolah-sekolah yang cukup jauh dari wilayah ini. Namun, setelah kami evaluasi, efektifitasnya hanya sekitar 10%-20% saja.

Karena itu, ke depan, kami sepertinya akan lebih memilih pendekatan langsung seperti praktik mengajar di sekolah-sekolah. Mereka juga langsung dapat merasakan manfaatnya.

Rencana pengembangan bisnis ke depan?

Kami ingin membuka cabang sampai 2-3 cabang lagi di beberapa tempat. Kami juga ingin memperluas jangkauan murid-murid, seperti di kawasan Jakarta Pusat dan Jakarta Barat.  Bila ada penambahan cabang baru, tentu kami perlu menambah tenaga guru.

Setiap satu cabang, setidaknya harus ada 5-7 guru baru. Untuk meningkatkan keterampilan dan kualitas guru, kami juga berencana melakukan serangkaian pelatihan. Sampai saat ini, kami masih melakukannya sendiri.

Namun, ke depan, kami tidak menutup kemungkinan melakukannya dengan melibatkan lembaga yang lebih profesional. Dalam hal operasional, kami ingin melakukan banyak perbaikan. Selama ini, beberapa kali terjadi masalah terkait absensi dan pembayaran.

Dua hal ini masih dilakukan secara manual. Tahun depan, kami sedang menyiapkan sebuah sistem. Sistem absen anak-anak mungkin bisa dilakukan dengan sidik jari. Sistem pembayaran juga bisa dilakukan melalui sebuah sistem yang memungkinkan kami bisa mengecek secara real time.

Dengan begitu, energi kami tidak akan terbuang untuk beberapa hal sepele seperti absen dan keluhan orang tua murid mengenai sistem pembayaran.

MORE FROM MY SITE