Sandy Permadi: Upaya Menjadi Platform Ekspor bagi UMKM

Banyak perusahaan rintisan, khususnya e-dagang (e-commerce), mulai menjelma menjadi perusahaan besar. Di Indonesia, ada dua perusahaan ini sudah menjadi unicorn, salah satunya Lazada berkat evaluasi perusahaan yang melebihi US$1 miliar.

Salah satu penyebab Lazada menjadi unicorn adalah, pada Juni lalu, perusahaan ini mendapat suntikan dana dari Alibaba hingga US$1 miliar. Melalui dukungan pendanaan tersebut, Lazada berencana melakukan ekspansi di Indonesia dan Asia Tenggara.

Tak hanya mengembangkan bisnis, Lazada juga terus bekerja sama banyak pihak untuk mengembangkan pedagang (UMKM) yang berjualan di platform miliknya. Mereka mengetahui bahwa hambatan terbesar UMKM adalah pendanaan dan metode pemasaran.

Melalui MoU dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) beberapa waktu lalu untuk penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR), Lazada kini memiliki fitur baru agar seller di Lazada bisa mengajukan KUR ke BCA dengan nilai maksimal Rp25 juta.

Selain program ini, Chief Financial Officer Lazada Indonesia Sandy Permadi juga pandangan sendiri mengenai bisnis daring (online). Berikut nukilan hasil wawancara dengan Smart-Money.

Platform e-dagang membuat penetrasi UMKM di Indonesia tumbuh tinggi. Ada saran dan kiat agar bisnis pelaku bisnis semakin maju?

Langkah pertama, harus pandai membaca pasar. Barang apa yang sedang menjadi tren dan digemari pasar, harus jeli melihatnya. Kedua, lakukan inovasi dan pengembangan. Bila sudah tahu barang apa yang diminati pasar, pikirkan lagi inovasinya akan ke arah mana?

Ketiga, kita juga harus memperhatikan tampilan dan foto produk. Penjualan di e-dagang tidak memungkinkan calon konsumen bertemu langsung dengan penjual. Jadi, gambar dan foto yang ditampilkan harus sesuai dengan kualitas produk.

Jangan lupa, buat harga yang kompetitif. Bila tidak kompetitif, pelanggan akan dengan mudah pindah ke pedagang lain.

Bagaimana mengatasi kekurangan ini?

Sebisa mungkin kami bantu. Dalam hal permodalan misalnya, kami bantu dengan menghubungkan penjual ke perbankan, seperti kerja sama BCA. Lazada juga memiliki Lazada University yang siap membantu meningkatkan kualitas UMKM.

Kami melakukan roadshow ke 11 kota dalam program #upgradeUKM. Program ini dihadiri oleh lebih dari 20 ribu UKM yang ada di seluruh Indonesia. Kami mencoba memfasilitasi semua permasalahan mereka dari bisnis.

Misalnya, masalah pendanaan, pelatihan ataupun persediaan barang (inventory). Kita coba bantu melalui Lazada University.

Apakah kerja sama BCA ini hanya sebatas KUR?

Kami menyebut kerja sama ini sebagai langkah awal. Kami dan BCA sama-sama tidak menutup diri pada kemungkinan kerja sama lain. Sebagian besar skala pedagang di Lazada memang masih UMKM, sehingga awalnya mungkin hanya KUR.

Namun, bila memang nanti kapasitasnya sudah memenuhi, BCA siap menyalurkan kredit lain dengan plafon kredit yang lebih besar.

Bagaimana dengan rencana ekspansi bisnis Lazada ke depan?

Saat ini kita mengadakan roadshow ke 11 kota, kita menggandeng beberapa pihak seperti Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag). Kita melihat bahwa apa yang kita punya ini memang menjanjikan.

Kita bisa meningkatkan skala bisnis dari yang tadinya hanya toko fisik (offline) ke sistem daring. Bisnis skala mikro juga bisa naik kelas ke sektor kecil, menengah dan besar. Apalagi, Lazada kini ada di enam negara. Jadi, ada potensi untuk meningkatkan ekspor melalui on demand platform ini.

Bagaimana rencana ekspansi ke luar negeri tersebut?

Memang ada. Saat ini, kita sedang dalam proses ke arah situ. Kita sedang menjajaki semua kemungkinan, termasuk mengajukan izin ke berbagai pihak seperti kepabeanan dan sebagainya. Itu melibatkan banyak pihak dan memang butuh waktu.

Kapan target ekspor ke Asia Tenggara bisa terwujud?

Sampai saat ini, kita belum bisa mengatakan dengan pasti terkait target kapan ekspansi bisa terwujud.

MORE FROM MY SITE