Setelah Masuk, Perusahaan Ini Sarankan Karyawannya Undurkan Diri (2)

Setelah Masuk, Perusahaan Ini Sarankan Karyawannya Undurkan Diri (2)

Handley dan Ricciardi membangun LiveTrust tanpa modal. Di awal berdiri, LiveTrust juga sempat merugi. Mereka pernah mendapat US$50ribu dalam sepkan dan rugi US$70 ribu dalam semalam.

Karenanya, mereka selalu melakukan negosiasi panjang dengan klien dan rekan-rekan bisnis mereka. Melalui perjuangan bisnis seperti itu, kini mereka ingin merasa sederajat dengan karyawan-karyawannya.

Mereka juga ingin karyawan mereka mencapai mimpi mereka sendiri. Ricciardi pernah bekerja di sebuah perusahaan dengan budaya yang tidak baik bagi pengembangan dirinya.

Karena itu, ia ingin memberikan perubahan melalui misi perusahaan membuat kultur kerja perusahaan tahan banting. Antara manajer dan bawahan misalnya, mereka biasanya enggan membicarakan hal pribadi seperti utang. Mereka hanya bicara tentang pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka dalam hal wajar.

"Itu tidak salah. Banyak manajer tak peduli kehidupan pribadi bawahannya. Namun, kita berusaha mengubahnya. Banyak perusahaan di Mexico tak melihat dan memperlakukan karyawannya dengan baik," sebut Ricciardi.

Mereka kemudian menginisiasi sebuah program. LiveTrust membuat suatu survei melibatkan beberapa aspek termasuk kebersihan dan keamanan kantor serta kondisi parkir.

Tiap karyawan harus berpartisipasi melihat kebutuhan terbaik karyawan lain. Mereja juga saling memberi masukan tentang budaya kerja yang nyaman. Mereka menemukan bahwa sistem kerja terbaik adalah sistem upah (reward), baik dari sisi pribadi dan keuangan.

Sistem ini ternyata mampu meningkatkan kebahagiaan mereka. LiveTrust juga menerapkan sistem amal. Bila salah satu dari mereka tertimpa masalah, mereka selalu saling membantu meringankan kesulitan, baik secara pribadi, profesional maupun keuangan.

LiveTrust juga terus berbenah dan melakukan inovasi. Mereka mulai menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligent) dan mesin pencari (machine learning).

Handley dan Ricciardi melihat bahwa masa depan bisnis pusat panggilan ada pada SDM dan mesin yang mampu memberi nilai tambah dalam pelayanan mereka.

MORE FROM MY SITE