Taksi Daring Mulai Rebut Pangsa Taksi Konvensional
A- A+

Tak ada yang menyangka bahwa kini orang bisa memesan taksi secara daring (online). Semuanya berkat kemajuan teknologi yang pesat. Kini, orang lebih memilih memesan taksi secara daring karena kemudahan yang ditawarkan.

Selain itu, tarif yang jauh lebih murah dari taksi konvensional berhasil membuat pelanggan berpaling dari taksi konvensional. Di Indonesia, ada Uber, Grab dan Gojek yang menawarkan jasa tersebut.

Para penyedia jasa tersebut siap merebut pasar taksi konvensional. Hal tersebut tercermin dari kinerja keuangan penyedia jasa taksi konvensional seperti PT Express Transindo Utama Tbk dan PT Blue Bird Tbk.

Operator taksi terbesar di Indonesia tersebut membukukan penurunan laba yang signifikan. Pada kuartal III-2016 Express merugi Rp 81,9 miliar dari sebelumnya untung sekitar Rp 11 miliar.

Meski masih mendapat laba sebesar Rp360,9 miliar, laba bersih Blue Bird menurun dibanding periode sama tahun sebelumnya. Fakta tersebut membuktikan kinerja taksi konvensional memang menurun dan diperkirakan terus tertekan.

Apalagi aturan Peraturan Menteri Perhubungan 32/2016 yang mengatur jasa transportasi dari ditunda. Lembaga pemeringkat Pefindo bahkan sudah menurunkan peringkat Express sebanyak dua kali sepanjang 2016 menjadi idBBB+.

Penurunan peringkat tersebut akibat pendapatan perusahaan tak memenuhi target. Pendapatan Express justru bekurang meski armada bertambah selama dua tahun terakhir.

Guna menghadapi persaingan bisnis yang lebih ketat, Express berencana merombak manajemen. Corporate Secretary Express Handy Prawira sempat mengatakan setelah pengunduran diri dua direksi dan empat komisioner, penyegaran manajemen diperlukan.
Perusahaan ini akan membuat struktur baru yang lebih tangguh dan visioner guna menghadapi tantangan bisnis.