Yendi Amalia: Yakinkan Klien Melalui Hasil Kerja yang Baik

Yendi Amalia: Yakinkan Klien Melalui Hasil Kerja yang Baik

Dalam dunia bisnis, ada istilah yang dikenal sebagai first-mover advantage (FMA). Ini adalah keuntungan yang diperoleh sebuah bisnis ketika masuk sebuah pasar dengan lini bisnis baru atau memiliki pemain yang jumlahnya sangat sedikit.

Perusahaan semacam ini nantinya akan mendapat keuntungan kompetitif melalui kendali sumber daya yang ada. Selain itu, perusahaan juga akan memiliki kesempatan yang besar untuk memantapkan posisi di pasar yang ada.

Salah satu contoh perusahaan ini adalah PT Tiga Rekan Internasional (Wordsmith Group). Perusahaan bahasa itu menyediakan jasa terkait penerjemahan, interpretasi, penulisan, pemasaran konten digital dan hal-hal terkait bahasa lainnya.

Adalah Yendi Amalia dan dua rekannya yang mendirikan perusahaan tersebut pada 2012 lalu. Di awal berdiri, sumber daya manusia (SDM) baru tiga saja, Yendi di posisi operasional dan dua rekan di posisi penerjemah (bisnis ketika awal perusahaan berdiri).

Namun kini, perusahaan ini sudah memiliki 12 SDM dan 10 di antaranya adalah wanita serta mampu menangani 14 bahasa. Porsi pekerja wanita yang lebih banyak ini karena memang Yendi ingin memberi kesempatan lebih besar bagi wanita untuk mendapat pekerjaan yang memiliki waktu fleksibel.

Ke depan, Yendi bahkan berencana menerima tenaga kerja difabel yang memang memiliki kemampuan yang mumpuni dan memenuhi standar yang disyaratkan. Seiring waktu, Wordsmith Group pun mulai dikenal dan persaingan di pasar semakin memperlihatkan bentuknya.

“Setelah perusahaan kami berdiri, mulai banyak perusahaan serupa yang bermunculan,” ungkap Yendi.



Untuk menjaga agar operasional tetap efisien, Yendi melakukan banyak hal, mulai dari penerapan mobile workstyle hingga penggunaan virtual office. Untuk mendengar kisahnya lebih lanjut, Smart-Money melakukan wawancara dengan Yendi. Simak nukilannya berikut.

Bagaimana cara memastikan kualitas layanan pada klien?

Kami memiliki empat jenis klien, korporasi, lembaga nirlaba, firma hukum dan agensi periklanan dan design house. Selain itu, juga ada individu. World Bank, AusAID, Bank Permata, Mandiri Sekuritas dan perusahaan-perusahaan minyak dan gas adalah beberapa klien kami.

Kami juga merupakan preferred vendor untuk European Chamber yang berbasis di Belgia. Untuk memastikan kualitas layanan, minimal kami mensyaratkan bahwa staf kami punya sertifikat dari Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI).

Selain itu, kami memiliki sistem berlapis untuk kontrol kualitas tiap pekerjaan. Kami juga sering mengirim staf untuk mengikuti pelatihan, dan HPI selalu memiliki pelatihannya. Jadi, staf saya itu memang harus bisa memiliki kinerja baik.

Kalau tidak, mereka akan mendapatkan konsekuensinya. Tapi, tiap staf memang memiliki penilaian yang berbeda-beda karena kondisinya pun berbeda-beda. Namun, biasanya saya komunikasikan dan tanyakan pada staf saya apakah dia mampu mengerjakan suatu pekerjaan.

Selain itu, ada pula proyek yang saya buat dengan sistem open-bid. Jadi, staf yang memang ingin mendapat tambahan uang di luar gaji tetapnya, bisa mencoba mengajukan diri.

Bagaimana cara memastikan semua pekerjaan aman ketika menerapkan virtual office?

Peluang terjadi salah komunikasi memang ada. Namun, kita punya manajer proyek (PM) di tiap proyek. Jadi, kalau ada masalah, dia akan coba menyelesaikan masalah yang ada. Kalau PM tidak bisa menyelesaikan masalah itu, baru saya yang akan turun tangan.

Namun, hal yang harus dipahami adalah tiap staf punya zona kerja masing-masing. Ada yang baru aktif di malam hari dan pagi tidak aktif. Untuk kasus semacam ini, kita coba toleransi.

Sedangkan di mata klien, untuk membuktikan bahwa kita memang dapat dipercaya dan dapat diandalkan meski belum punya kantor adalah dengan memberikan hasil kerja yang baik. Jadi, klien akan sadar kualitas kita melalui hasil kerja yang kita berikan.

Apa yang menjadi tantangan di bisnis ini?

Kadang, tantangannya adalah mencari padanan terminologi. Misal, untuk lembaga nirlaba lingkungan hidup yang ingin menyasar petani. Field Officer lembaga itu akan memberikan brief dengan terminologi yang rumit.

Sementara itu, banyak petani yang tentunya akan kebingungan dengan terminologi itu. Jadi, kami yang akan mencarikan padanannya agar para petani ini mengerti apa yang dimaksud oleh klien. Jadi, mencari padanan yang mudah dimengerti juga merupakan suatu tantangan.

Selain itu, tantangan juga datang dari diri saya sendiri. Awalnya, saya merasa tidak punya jiwa pengusaha. Jadi, ini sebenarnya seperti tercebur saja. Namun, dalam perjalanannya, ternyata saya bertemu banyak orang-orang dengan latar kasus seperti saya di startup bootcamp.

Jadi, saya atasi tantangan tersebut dengan berbagi kisah dengan mereka. Kalau memang ada masalah yang membuat bingung, memang harus dicarikan bantuan untuk menyelesaikannya.

Tantangan lainnya adalah mendapatkan repeat order dari klien. Karena, biasanya mereka seperti beli putus. Jadi, memang harus terus mencari. Lebih baik langsung mengerjakan banyak proyek dibandingkan menunggu proyek baru dari klien yang sama.

Masalah pembukuan juga tidak bisa dianggap remeh. Masalah ini juga kerap menghampiri banyak perusahaan rintisan. Jadi, mereka tidak tahu apakah arus kas mereka sehat atau tidak. Padahal, ini sangat penting bagi sebuah bisnis.

Bila tidak tahu, tanpa sadar keuntungan perusahaan bisa tergerus untuk membayar suatu biaya. Saya sendiri juga baru menyadari hal ini. Karena pembukuan yang seadanya, saya baru sadar tidak punya aset untuk melakukan ekspansi bisnis.

Padahal, tahun depan saya ingin melakukan ekspansi bisnis di luar Jakarta yang sekarang menjadi basis kami. Sebelumnya, kita hanya melakukan pembukuan sederhana, belum ada unsur pengelolaan keuangan yang sebenarnya di dalamnya.

Banyak yang menilai kerja dari rumah sebagai hal ‘mewah’. Benarkah?

Menurut saya tidak juga. Karena ada banyak sekali godaan ketika bekerja dari rumah. Mendisiplinkan diri itu susah. Jadi, memang harus mengatur waktu dan pola kerja agar tetap mampu memenuhi tenggat waktu pekerjaan sesuai kesepakatan.

Karena sebetulnya, perusahaan jasa memang harus tetap mampu memenuhi kebutuhan klien. Apalagi klien kerap tidak mau tahu seperti apa prosesnya.

Bagaimana cara memasarkan jasa Wordsmith Group?

Bisnis kami memang bersifat Business to Business (b2b). Di awal berdiri, kami kerap mendapat undangan untuk pitching. Undangan ini berasal dari relasi-relasi ketika saya masih bekerja sebagai profesional di beberapa perusahaan, baik agensi humas, lembaga nirlaba dan lainnya.

Dari awal berjalan, kami memang tidak punya tim penjualan atau pemasaran, hanya mengandalkan rekomendasi dan word of mouth. Berkat cara ini, pada 2013 ketika kami mulai mendapat klien, pendapatan kami sudah mencapai Rp400 juta.

Pada 2014, pendapatan kami sudah mencapai Rp1,2 miliar per tahun. Karena merasa permintaan ini terus meningkat, saya sadar klien memang harus terus dicari. Tahun depan, saya akan fokus untuk pemasaran dan membuat tim pemasaran yang bertugas memasarkan jasa kita.

Selain itu, saya juga ingin mulai mempekerjakan para difabel di tahun depan. Selama mereka punya kemampuan, mereka akan kami tampung.

Rencana di tahun depan?

Di tahun depan, kami ingin mengembangkan dan membawa Wordsmith Group ke daerah lain karena beberapa kali kami mendapat tawaran proyek di sana. Selain itu, model bisnis ini sebenarnya sederhana sekali, jadi cukup dengan kantor perwakilan saja.

Selain itu, kami juga ada rencana untuk menggunakan alat penerjemahan di tahun ini agar proses penerjemahan lebih efektif.

MORE FROM MY SITE