Yusmansyah: Pentingnya Memilih Lokasi untuk Bisnis

Yusmansyah: Pentingnya Memilih Lokasi untuk Bisnis

Dalam mendirikan bisnis, ada banyak faktor yang memang memengaruhi tingkat kesuksesan sebuah bisnis. Komponen yang sudah banyak diketahui misalnya produk, harga, lokasi dan promosi.

Bila semua komponen tersebut bisa dijadikan dengan tepat, bisnis punya kesempatan besar untuk tumbuh dan bertahan. Begitu pula yang dirasakan Yusmansyah.

Setelah melanglang buana bekerja di berbagai perusahaan hingga mulai mencoba masuk dunia bisnis bersama teman-temannya, Yusmansyah akhirnya memutuskan untuk merintis bisnisnya sendiri di dunia pendidikan pada 1995.

“Bisnis di dunia pendidikan ini sebenarnya tidak sengaja. Waktu itu ada tawaran untuk waralaba English First (EF) pada 1995. Ini bisnis pendidikan pertama yang saya geluti,” ungkap Yusmansyah pada Smart-Money.

Selain EF, Yusmansyah juga pada awalnya membuka rumah makan Hot Cwie Mie Malang serta kerjasama dengan pihak lain  untuk politeknik LP3I. Selama menjalani bisnis tersebut, Yusmansyah menyadari bahwa penentuan lokasi sangatlah penting, terutama untuk bisnis pendidikan dan kuliner seperti yang ia geluti.



Untuk itu, Smart-Money melakukan wawancara untuk mencari tahu bagaimana ia melakukannya. Berikut nukilannya.

Lokasi pertama EF dan LP3I?

EF pertama yang saya bangun ada di Melawai, kemudian di Kelapa Gading dan Bintaro. Sedangkan untuk Politeknik LP3I pertama saya bangun di Depok pada 2000. Setelah itu, saya juga buka EF di Pekanbaru, Kota Wisata Cibubur, Cilegon, dan Samarinda.

Totalnya ada 11 EF Center sekarang. Memang butuh waktu yang cukup lama untuk membangun semuanya. Namun, LP3I Samarinda dan Balikpapan akhirnya harus tutup karena kondisi pasar yang turun karena di Kalimantan Timur pemerintah daerah sudah mendirikan Politeknik Negeri sendiri.

Akhirnya, saya hanya fokus pada Politeknik LP3I di Depok dan Cileungsi.

Bagaimana cara Bapak menentukan lokasi?

Hal pertama yang harus dicek ketika membuka usaha adalah lokasi. Dulu, Balikpapan  saya pilih karena saya pernah kerja di sana. Selain itu, saya juga punya mitra orang sana. Jadi, saya tak perlu ke Balikpapan  setiap hari agar bisnis bisa tetap berjalan.

Selain itu, untuk bisnis pendidikan, sebaiknya pilih lokasi yang tepat  dan dekat perumahan. Sedangkan untuk politeknik, pilih lokasi yang memiliki akses mudah dengan kendaraan umum.

Adakah hal lain yang harus dicek ketika memilih lokasi?

Selain hal tersebut, kalau kita mau buka cabang baru, kita juga harus mengecek seperti apa persaingan di lokasi itu. Untuk tempat pendidikan bahasa Inggris, sebaiknya pilih satu kota yang masih jarang memiliki tempat pendidikan bahasa Inggris, kalaupun ada tentu lokasi kita harus lebih baik dari mereka.

Hal ini penting untuk memastikan bahwa kemungkinan pertumbuhan bisnis kita bisa besar. Jadi, di satu kota bisa tumbuh lebih dari satu cabang tergantung pasar di kota tersebut misalnya, seperti di Surabaya bisa lebih dari empat cabang sedangkan di kota lain cukup satu cabang seperti kota-kota di luar Jawa.

Faktor pesaing pun harus dilihat. Lihat kembali keberadaan sekolah internasional atau pesaing yang setingkat. Bila masih sedikit, maka kesempatan semakin besar. Intinya, lihat banyak pesaing, penduduk, sekolah, dan akhirnya tentu persetujuan pemberi waralaba  menjadi faktor yang menentukan.

Adakah alasan khusus bila terjadi pindah lokasi?

Ya, misal pasarnya turun, ataupun lokasi sudah tidak tepat karena pembangunan insfrakstruktur yang tidak kunjung selesai.

Kesulitan selain mencari lokasi yang tepat?

Di EF, kesulitan yang terlihat adalah penyediaan tenaga kerja  karena pengajar diutamakan pengajar asing. Proses yang berkaitan dengan izin kerja, semakin ketat aturannya dan memakan waktu lama, padahal kita sudah sediakan tempat tinggal dan lain sebagainya.

Masalah sumber daya manusia ini memang menjadi tantangan tersendiri. Pada akhirnya, kami pun harus mengakalinya. Solusinya, komposisi pengajar lokal dan native pun kami balik. Dari 30% lokal dan 70% native, menjadi 80% lokal dan 20% native.

Selain dari tenaga pengajar, masih ada kesulitan untuk staf yang mau bekerja lama, terutama untuk staf pemasaran dan manajer cabang . Tingginya angka keluar-masuk ini akibat mereka tidak tahan dengan kondisi yang ada.

Di bisnis pendidikan, target lebih pendek, bisa tiap pekan ada target baru yang harus dicapai, juga karena prestise. Kemudian, umumnya anak muda lebih senang bekerja di perbankan, sekuritas atau perusahaan minyak dan tambang.

Namun saya punya prinsip, bila ada pilihan untuk memilih karyawan yang kompeten atau yang jujur, saya akan pilih karyawan yang jujur. Sebab, kompetensi masih bisa diasah. Namun kejujuran tidak bisa.

Apalagi, saya sangat memegang nilai kejujuran dalam menjalankan bisnis.

Lalu, solusi untuk mengatasi masalah tersebut?

Untuk SDM solusinya adalah kompensasi yang menarik, berupa gaji dan insentif yang menarik. Untuk pemasaran langsung jemput bola, open house.

Ada langkah lain?

Kami juga mulai masuk ke pemasaran digital. Kami gunakan media sosial seperti Facebook, Instagram dan lainnya untuk mengunggah kegiatan-kegiatan yang kami lakukan. Ini juga menjadi alat untuk memudahkan calon konsumen menjangkau kami.

Di awal berbisnis pendidikan, butuh berapa lama hingga investasi kembali?

Ketika mulai di 1995, payback period bisa terjadi cepat sekali, kurang lebih dua tahun. Namun kondisi ini sudah berbeda sekarang, Kalau sekarang, butuh 4-5 tahun untuk bisa (payback period).

Kiat khusus agar bisnis pendidikan bisa sukses?

Selain soal lokasi, pastikan juga punya aset nyata seperti gedung. Sebab, langkah ini bisa mengeliminasi beban sewa yang timbul bila kita menyewa tempat.

Ada saran untuk jenis bisnis yang tepat saat ini?

Bisnis di makanan dan pendidikan punya peluang besar. Kedua jenis bisnis ini sudah terbukti tahan banting sejak zaman krisis. Makanan pasti semua orang butuh, begitu pula dengan pendidikan.

Untuk makanan, khususnya makanan lokal yang enak, di mana pun lokasinya pasti konsumen akan datang.

MORE FROM MY SITE