Akankah Jakarta Seperti Hong Kong, Warga Tak Sanggup Beli Properti? (1)

Akankah Jakarta Seperti Hong Kong, Warga Tak Sanggup Beli Properti? (1)
Akankah Jakarta Seperti Hong Kong, Warga Tak Sanggup Beli Properti? (1)

Sebuah laporan terbaru memaparkan bahwa properti merupakan salah satu pengeluaran terbesar warga Indonesia selain pendidikan. Menurut survei Rumah123.com pada 3.436 responden (51% laki-laki dan 49% perempuan) dengan rentang usia 22-45 tahun, sebanyak 54% ingin membeli properti.

"Sebanyak 54% memiliki penghasilan bulanan Rp 5 jutaan dan 26% berpenghasilan Rp 5 juta-Rp 10 juta. Kalangan ini yang kami asumsikan punya keinginan kuat membeli properti," ujar Country Manager Rumah123.com Ignatius Untung baru-baru ini.

Menurut Untung, makin tinggi penghasilan seseorang, makin tinggi keinginan membeli properti. Sebaliknya, makin rendah penghasilan, properti bukan prioritas pengeluaran. Dari total responden, 40% merupakan pembeli rumah pertama, 14% adalah kalangan yang sudah punya properti dan ingin membeli yang lebih baik.

"Ada 33,6% responden inginan membeli rumah dalam enam bulan ke depan. Hipotesa awal kami mengira kendaraan menjadi keinginan pertama orang, ternyata kendaraan hanya menjadi pilihan 12,8% responden," ungkap Untung.

Meski keinginan membeli properti tinggi, 41% warga mengaku tak memiliki tabungan yang cukup untuk membeli properti. "Bahkan, 46% orang Indonesia belum punya rumah. Makin kecil pendapatan, orang ini hanya mengandalkan rumah warisan orang tua," jelas Untung.

Untung melanjutkan, sebesar 2% orang Indonesia ternyata memiliki lima unit properti. Di sisi lain, 22,83% orang mengaku mampu membeli properti dalam waktu dekat. Artinya, kata Untung, dari 260 juta penduduk, ada sekira 56 juta orang punya kemampuan beli properti saat ini.

Meski demikian, pengembang dan agen properti lebih senang mengincar investor sebagai target pembeli. Sebab, para investor ini punya kekuatan untuk membeli properti dalam jumlah unit yang besar.

Padahal, kata Untung, ada 54% orang yang bukan investor dan ingin membeli properti. Sedangkan survei ini mengungkap, jumlah investor menguasai 12%. "Walau kecil, namun uang yang beredar di kalangan investor berlipat-lipat jauh lebih besar," kata Untung.

Untung bilang, ada beberapa alasan mengapa seseorang menunda pembelian properti. Pertama, sebanyak 30% responden bilang mereka sulit melakukan pembayaran di muka atau down payment. Meski Bank Indonesia (BI) sudah memberi relaksasi Loan to Value (LTV) sebesar 5% yang membuat uang muka turun menjadi 15%, orang Indonesia tetap sulit membeli properti.

Terlebih lagi, beberapa pengembang telah memberi cicilan uang muka hingga tiga tahun. Ini mengacu pada alasan kedua yang menurut Untung tidak realistis. Orang Indonesia cukup muluk dalam membeli properti. Lokasi tak sesuai keinginan bisa menjadi alasan utama menunda membeli properti (20% responden).

Berlanjut ke bagian kedua.

MORE FROM MY SITE