Akankah Jakarta Seperti Hong Kong, Warga Tak Sanggup Beli Properti? (2)

Akankah Jakarta Seperti Hong Kong, Warga Tak Sanggup Beli Properti? (2)
Akankah Jakarta Seperti Hong Kong, Warga Tak Sanggup Beli Properti? (2)

Untung bilang, mereka ingin membeli di lokasi tengah kota dan dekat kantor. "Namun, uang mereka tidak cukup untuk membeli properti di sana. Sedangkan bila ada lokasi yang sesuai anggaran, mereka menolak karena alasan jauh," ungkap Untung.

Jika calon pembeli properti memiliki mental seperti ini, akan sulit baginya memiliki rumah. Sebab, harga properti terus meningkat tiap tahun melebihi kenaikan gaji. "Persepsi mereka yang penghasilannya Rp 5 juta berpikir butuh waktu 10 tahun untuk mencapai DP. Padahal makin ditunda, harga properti naik, uang muka pun juga naik," kata Untung.

Hal ini akan membuat Jakarta seperti Hong Kong. Di Hong Kong, warganya sudah tidak membeli properti karena harganya selangit. Hal ini menyebabkan 57% orang Hong Kong tak memiliki rumah. Bahkan, ada apartemen di Hong Kong yang luasnya hanya 2x4 meter.

"Harga properti di sana sudah sulit dicapai. Sehingga, generasi mereka menjadi kontraktor, alias tukang ngontrak. Tentunya, kita tak mau hal ini terjadi di Indonesia," katanya.

Gejala Jakarta seperti Hong Kong sudah mulai terlihat. Dalam beberapa tahun studi sentimen properti dilakukan, sudah terjadi perubahan indikator properti. Misalnya, rumah sederhana yang dulu didefinisikan berdasarkan ukuran dan material, kini sudah bergeser.

"Luas sudah tak lagi jadi patokan menyebut rumah, apakah sederhana atau sangat sederhana. Bahkan, di berbagai kawasan di Jabodetabek, rumah 32 m2 saja disebut rumah mewah," kata Untung.

Karenanya, perlu edukasi dari pengembang, agen properti, maupun pemerintah agar warga melek properti, khususnya mereka yang berpenghasilan Rp 5 juta. Edukasi ini bisa berupa kampanye massal untuk mengajak orang memahami alasan membeli properti sedini mungkin.

"Jangan berpikir gaji Rp 5 juta, tidak bisa beli properti. Kalau pola pikir ini dipertahankan, kita tidak akan bisa beli properti," kata Untung.

Kalau kampanye itu berhasil dilakukan, hal ini bisa menggairahkan pasar properti untuk kelas menengah bawah. "Pengembang pun jadi tak ragu mengembangkan properti kelas tersebut," tuturnya. Untuk kalangan berpenghasilan Rp 5 jutaan, sudah ada apartemen dengan cicilan uang muka sekitar Rp 800.000 per bulan dengan harga properti berkisar Rp 200 jutaan.

Saat ini, pasar terbesar apartemen masih ada di rentang cicilan Rp 7 juta-Rp 15 juta per bulan.

MORE FROM MY SITE