Alasan Bunga Kredit Susah Turun ke Satu Digit
A- A+

Pemerintah sering meminta perbankan untuk terus meningkatkan perannya bagi ekonomi nasional, salah satunya dengan menurunkan bunga kredit. Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan lantang meminta bunga kredit di Indonesia harus turun menjadi satu digit.


Harapannya, dengan semakin mudah dan murah bunga kredit, masyarakat akan lebih banyak mengajukan kredit. Meski demikian, bunga kredit masih sulit diwujudkan. Berikut hal-hal yang perlu kamu tahu terkait penurunan suku bunga kredit.


Struktur Pendanaan Perbankan


Saat ini, dana yang didapat perbankan dari masyarakat masih berasal dari deposito. Perbankan di Indonesia harus memberi bunga tinggi atas deposito masyarakat. Hal ini berbeda dengan tabungan dan giro.


Di samping itu, deposan besar juga hanya terdiri dari beberapa orang atau institusi saja.


Jangka Waktu Sumber Pendanaan Perbankan


Berapa lama jangka waktu deposito? Paling lama hanya 24 bulan atau dua tahun. Sebagian besar dana deposito, bahkan disimpan untuk jangka waktu setidaknya satu tahun saja.


Padahal, jangka waktu pendanaan kredit perbankan panjang. Bila produknya adalah kredit kepemilikan rumah, bisa mencapai 15 tahun. Tidak ada jaminan bahwa masyarakat akan kembali menyimpan kembali uangnya di perbankan.


Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar


Inflasi tahunan di Indonesia selama beberapa tahun terakhir memang sudah rendah. Tetapi, struktur industri kita yang masih tergantung dengan impor, membuat nilai tukar rupiah harus dijaga.


Bila suku bunga kredit rendah, nilai tukar rupiah bisa jatuh bebas, importir bisa rugi besar.


Risiko Kredit yang Masih Besar


Di perbankan, kredit dibagi menjadi beberapa jenis. Kredit investasi dan modal kerja adalah jenis kredit yang memiliki bunga paling mudah turun. Namun, kredit konsumsi seperti kredit otomotif dan KPR tidak.


Selama masa pembiayaan, risiko kredit macet bisa saja terjadi. Perbankan perlu melakukan pencadangan ekstra atas penyaluran kredit ini.