Duh, Bursa Tiongkok Pimpin Kejatuhan Bursa Asia
A- A+

Kondisi ekonomi Tiongkok memang sedang negatif. Sentimen ini pun memberi dampak negatif pada pasar Asia. Pasar saham yang biasanya positif di awal tahun, menjadi suram karena hal ini.

Para investor pun menjual saham mereka setelah mengetahui prediksi pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang rendah. Tak heran bila pasar saham Tiongkok terhenti akibat mekanisme penghentian otomatis pada penurunan 7%.

Seperti diketahui, Bank Dunia memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun ini hanya akan mencapai 6,7%, dan 6,9% di tahun lalu.

Di perdagangan awal 2016, pasar saham domestik tercatat memiliki kinerja paling lumayan dibanding bursa saham lain kawasan Asia. Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya 1,75%.

Namun, akibat pengaruh regional, fluktuasi di pasar domestik pun menjadi tinggi. Tak hanya pasar domestik, pasar global juga masih tertekan kondisi Tiongkok. Hal ini dipicu teknik perdagangan di bursa Tiongkok yang memang menjadi pemicu pelemahan di pasar global.

Pelamahan yang terjadi bukan masalah fundamental di pasar modal, sehingga dampaknya hanya sementara. Kondisi ini tak terlalu berpengaruh pada investor lokal yang terbukti masih mengambil posisi.

Untuk jangka pendek, IHSG akan bergerak di rentang 4.250-4.300. Pengaruh pelemahan Tiongkok juga akan berdampak pada sektor komoditas dan perbankan. Kondisi ini akan membaik seiring konsolidasi ekonomi Tiongkok.

Menurut perkiraan, di akhir tahun ini, IHSG berpeluang naik di rentang 5.400-5.500. Baru-baru ini, Direktur Perdagangan dan Partisipan Bursa Efek Indonesia (BEI) Alpino Kianjaya bilang, investor lokal sudah melakukan antisipasi efek pelemahan ekonomi Tiongkok.

Alhasil, pelemahan yang terjadi tak akan berdampak panjang, malah terus menguat.