Dari 'Bermain' Saham, Satpam Ini Berhasil Biayai Kuliah Adik

Dari ‘Bermain’ Saham, Satpam Ini Berhasil Biayai Kuliah Adik
Dari ‘Bermain’ Saham, Satpam Ini Berhasil Biayai Kuliah Adik

Hingga saat ini, masih banyak yang enggan untuk bermain saham. Sebab, banyak yang menilai instrumen investasi yang satu ini punya risiko tinggi. Namun, semakin besar risiko, semakin besar pula imbal hasil yang bisa didapatkan, bukan?

Ada kisah menarik di Bursa Efek Indonesia (BEI). Seorang pria dengan profesi sebagai satpam berhasil meraup untung dari sejumlah saham andalannya. "Rata-rata, saya memperoleh gain sekitar 50% hingga 60%," ucap Suherman mengutip Kontan.

Suherman mengaku, sejak awal 2017 ia sudah mulai mengakumulasi saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Suherman juga mengaku tak memusingkan diri dengan analisis teknikal atau rasio fundamental lain.

Suherman murni berinvestasi dengan modal percaya dan pengetahuan umum yang ia peroleh tiap hari melalui surat kabar. Alasan Suherman memilih ADRO misalnya, karena perusahaan ini memiliki laba yang menarik.

Sementara PTBA, ia memilih saham ini karena melihat permintaan batubara dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) masih tinggi. Sementara WSKT ia pilih karena saham konstruksi mendapat sentimen tax amnesty yang juga berkontribusi dalam percepatan pembangunan infrastruktur.

Suherman mengatakan, ada proses hingga ia bisa mendapat untung. Perkenalan Suherman dengan saham tak lepas dari pengamatannya terhadap aktivitas di sekitar lingkungan kerjanya yang merupakan salah satu perusahaan sekuritas di Indonesia.

Awalnya, Suherman mau ikut bermain saham karena coba-coba. Namun, berkat dorongan atasannya, Suherman benar-benar memberanikan diri masuk ke dunia saham pada 2010. Ketika itu, ia bermodal Rp8 juta dari uang yang ia sisihkan.

"Mengalami kerugian pasti pernah. Namun, itu pelajaran berharga. Dari sana, saya tahu bahwa membatasi risiko merupakan langkah antisipasi yang sangat diperlukan," katanya. Bahkan dari pengalaman itu, Suherman juga mulai 'membatasi; harapan untung terlalu tinggi.

Dia sadar, tak ada satu orang pun tahu apa yang akan terjadi di bursa saham. "Saat ini terlihat akan terus naik, bisa saja sedetik kemudian berbalik arah," katanya. Suherman mengaku membagi aset investasinya menjadi dua porsi, 80% untuk menabung saham, 20% untuk trading jangka pendek.

Untuk porsi trading jangka pendek pun dibatasi dengan strategi lanjutan. "Saya kasih batas, kalau sudah untung antara 10% hingga 15%, saya alihkan ke saham lain yang lebih murah," jelas Suherman. Melalui strategi itu, Suherman berhasil memetik hasil yang lumayan.

Pada awal 2017, portofolio Suherman sekitar Rp90 juta. Setahun kemudian, sudah menjadi sekitar Rp140 juta. "Sebagian untung untuk membiayai kuliah adik dan keluarga," pungkasnya.

MORE FROM MY SITE