Gunakan Uang Sebagai Pupuk Kekayaan
A- A+

Biasanya kamu pakai untuk apa sisa anggaran bulanan yang sudah kamu alokasikan? Untuk bersenang-senang atau malah investasi? Orang kaya punya prinsip, mencari uang layaknya menanam.

Mereka melakukannya entah dengan membeli properti, barang seni mahal atau investasi di bisnis rintisan. Misalnya Joshua Coleman yang menjual perusahaan telekomunikasi miliknya seharga US$400 juta (Rp5,4 triliun) pada 2014.

Lalu, apakah dia menggunakan uang hasil penjualan untuk membeli barang mewah? Tidak. Ia mendirikan firma penghubung masyarakat dengan ahli pajak, hukum dan penasehat keuangan bernama Momentum Advanced Planning.

Demikian, ia bisa mendapat bisnis besar. Orang-orang superkaya dengan kekayaan setidaknya Rp395 miliar tak hanya berinvestasi di saham dan obligasi, juga membeli perusahaan dan investasi pada sekuritas dan bisnis-bisnis yang tidak biasa.

"Ini namanya risiko alfa. Di sini situasi bisa terbalik setiap saat,” kata Coleman dilansir BBC. Investasi di perusahaan rintisan punya risiko yang lebih besar dibanding investasi tradisional.

Investasi jenis ini juga kurang cair (liquid) karena harus berinvestasi setidaknya lima tahun. CEO Firma Keuangan Fleming Family Ian Marsh menceritakan kisah kliennya yang bekerja sama Doric dan menggunakan uang untuk membeli pesawat yang disewakan ke maskapai Emirates Airlines.

Dari penyewaan tersebut, mereka mendapat bunga setidaknya 9%. Tentu pilihan tersebut menjadi lebih menarik dibanding menjual pesawat itu. Apalagi investasi di pasar saham bursa AS hanya memberi imbal hasil 3%.

Investasi pada lahan pertanian yang subur, menurut Marsh, juga menguntungkan. Meningkatnya jumlah populasi manusia membuat permintaan makanan akan naik. Tanah subur merupakan sumber daya terbatas karena makin sulit didapat.

Dus, keuntungan bisa semakin besar. Tanah subur bisa mendatangkan keuntungan sekitar 4% setahun untuk investor dan tambahan peningkatan aset. Investor kaya asal New York David Rose berinvestasi besar pada perusahaan rintisan.

Dia bahkan menulis buku, Angel Investing: The Gust Guide to Making Money and Having Fun in Startups.

“Bayangkan investasi di Google saat masih berkantor di sebuah peti kemas. Kamu bisa bertemu para pendiri perusahaan itu seminggu sekali, mendapat laporan dari tangan pertama tentang apa yang sedang terjadi dan melihat perusahaan tumbuh. Ini bisa jadi amat menyenangkan,” katanya.

Risiko gagal berinvestasi di perusahan rintisan, katanya, bisa mencapai 50%. Namun, bila berhasil, mereka bisa mendapat keuangan 20-50 kali lipat dari investasi awal pada satu atau dua perusahaan sukses.

Rose biasanya menanamkan uang antara US$50.000-100.000 dalam satu perusahaan. Properti juga menjadi salah satu investasi incaran. Orang superkaya sering membeli kondominium mahal di London, New York atau beberapa kota dunia lain.

Mereka membeli dua atau tiga rumah di tempat berbeda di beberapa belahan dunia. Sebagian disewakan atau ditinggali ketika mereka berada di kota tersebut. Di jangka panjang, nilai investasi di pasar utama ini sangat menguntungkan.

Bagaimana dengan hobi mahal?

Hasil penelitian lembaga konsultan properti dan real estate Knight Frank seperti dikutip CNBC melaporkan, dalam 12 bulan terakhir nilai investasi pada minuman alkohol jenis wine memberi hasil peningkatan nilai sampai 25%.

Nilai investasi wine merupakan yang tertinggi dibanding investasi di bidang seni (12%), serta koin, perhiasan dan jam tangan yang masing-masing tumbuh 4%. Investasi pada mobil mewah juga terbukti menumbuhkan aset sebesar 2% per tahun.

Menarik bukan?