Tawarkan Imbal Hasil Tinggi, Saham Belum Tentu Pilihan Terbaik
A- A+

Saham memang terkenal sebagai instrumen investasi yang bisa menawarkan imbal hasil tinggi untuk jangka panjang. Namun, apakah saham selalu lebih baik dibanding investasi di obligasi negara atau deposito? Jawabannya tidak.

Hasil studi Profesor Keuangan Arizona Hendrik Bessembinder seperti dilansir New York Times mengungkap, bagi investor individu saham kerap bukan menjadi instrumen terbaik. Dalam "Do Stocks Outperform Treasury Bills?" Hendrik menyebut, saham tidak berbeda jauh dengan lotre.

Dalam bermain lotre, kecil peluang menang sepanjang hidup. Apalagi, di pasar keuangan, tidak semua saham menunjukkan kinerja maksimal. Bessembinder melakukan penelitian menggunakan sistem CRSP (Center for Research in Security Prices) di Universitas Chicago.

Ia melakukan survei pergerakan saham dari Juli 1926 hingga Desember 2015. Dalam sebulan, ia membandingkan imbal hasil obligasi pemerintah dan saham. Hasilnya, saham biasa ternyata tidak lebih unggul dibanding obligasi.

Walau memang, secara indeks, imbal hasil saham secara keseluruhan jauh lebih unggul dibanding imbal hasil obligasi. Dari 1926, kata laporan itu, 58% saham di Wall Street jatuh. Kalau naik, imbal hasil yang diberikan tidak berbeda jauh dengan obligasi pemerintah.

Imbal hasil antara dua instrumen investasi ini tidak lebih dari 1%. Lalu, harus menempatkan dana di instrumen apa? Haruskah kembali ke tabungan dan deposito? Kalau kamu tidak mampu mengawasi saham 24 jam, Bessembinder menyarankan melakukan diversifikasi dana antara saham dan obligasi.

Reksa dana pun tidaklah menjadi pilihan buruk. "Kalau kamu siap, kamu justru memiliki peluang besar berinvestasi di saham-saham yang tidak pernah kamu dengar sebelumnya," kata Bessembinder.

Apakah berarti ia tidak menyarankan untuk tidak bermain saham sama sekali? Tentu tidak. Bila kamu ingin mencoba berinvestasi di saham, syaratnya kamu siap dengan segala risiko volatilitas di pasar keuangan.