Jelang Akhir Pekan, IHGS Berpotensi Menguat

Jelang Akhir Pekan, IHGS Berpotensi Menguat

Pada penutupan perdagangan kemarin, Kamis (2/6), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok ke zona merah. Pelemahan 0,13% membawa indeks menuju level 4.833,23. Sektor aneka industri dan industri dasar memberi kontribusi atas pelemahan indeks.

Sektor tambang dan agrikultur mengalami penguatan sehingga indeks hanya terkoreksi tipis. Asing juga masih melakukan pembelian di sejumlah saham, seperti TLKM, KLBF dan HMSP.

Proyeksi Bank Indonesia (BI) terhadap rupiah di kisaran Rp 13.500 hingga Rp13.800 yang berada di atas level saat ini akan mendorong permintaan untuk spekulasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Bursa global bergerak bervariasi kemarin. Di kawasan Euro, indeks Eurostoxx koreksi 0,16% di 3033,86. Di Wall Street indeks saham berhasil melanjutkan penguatannya. Indeks DJIA dan S&P masing-masing menguat 0,27% dan 0,28% di 17838,56 dan 2105,26.

Pasar Wall Street bergerak berdasar sentimen data cadangan minyak mentah AS yang turun pekan lalu sebanyak 1,4 juta barel di bawah perkiraan turun 2,7 juta barel, hasil pertemuan OPEC yang gagal mencapai kesepakatan pembatasan produksi, dan penantian data tenaga kerja AS yang keluar akhir pekan ini.

Harga minyak mentah bergerak fluktuatif ditutup tadi malam menguat tipis di US$49,06/barel. Pertemuan ECB kemarin kembali menahan bunga acuan di 0% dan tetap mempertahankan kebijakan stimulus sebesar 80 miliar euro setiap bulan.

Untuk perdagangan hari ini, indeks diperkirakan bergerak konsolidasi dengan potensi menguat tipis. Pergerakan nilai tukar akan menjadi perhatian hari ini, indeks akan bergerak di rentang 4.800-4.870.

Riset Ekonomi dan Industri PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyebutkan, hari ini memang belum ada sentimen domestik yang signifikan untuk menggerakkan pasar.

Sementara itu, di bursa Asia hari ini cenderung bergerak sideways sambil investor menanti data ekonomi AS untuk menelaah kemungkinan pengetatan suku bunga Fed.

Pasar nampaknya meramalkan hasil yang positif dari rilis data tenaga kerja AS namun masih memperkirakan belum adanya pengetatan di bulan Juni karena masih ada beberapa variabel yang berpotensi meningkatkan volatilitas, salah satunya Brexit.

Di sisi lain, ada angin segar dari penguatan harga minyak setelah data persediaan AS yang turun berhasil menutupi kegagalan rapat OPEC dalam mencapai kesepakatan untuk membatasi produksi.

Di pasar spot, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pagi ini dibuka menguat 0,09% ke level 13.631. sedangkan di perdagangan kemarin, rupiah terapresiasi 0,13% ke level 13.643.

MORE FROM MY SITE