Ketahui Saat Tepat Lakukan Investasi di Obligasi
A- A+

Membicarakan instrumen investasi memang tak ada habisnya. Apalagi, ada banyak produk investasi yang bisa menjadi pilihan. Salah satu yang memiliki risiko minimal dan memberikan imbal hasil besar adalah obligasi.

Namun, sudah tahukah kamu kapan saat paling tepat berinvestasi di obligasi?

Jawabannya adalah ketika kondisi pasar sedang fluktuasi. Selama 2017, pasar keuangan Indonesia mengalami fluktuasi. Di tengah fluktuasi, pasar saham yang biasanya menawarkan imbal hasil menarik pun mengalami tekanan.

Hingga pertengahan September 2017 lalu, imbal hasil saham mencapai 10,87% sedangkan pasar obligasi menawarkan imbal hasil lebih tinggi, sebesar 14,19%.

Dus, Chief Investment Officer Fixed Income MAMI Ezra Nazula menilai bahwa investasi di pasar obligasi akan menawarkan peluang menarik untuk jangka panjang. Alasan pertama, tren inflasi saat ini terkendali.

Dalam tiga bulan terakhir, inflasi Indonesia turun dari 4,33% (yoy Mei 2017) menjadi 3,82% (yoy Agustus 2017). Tingkat inflasi yang rendah, katanya, membuka peluang bagi Bank Indonesia membuat kebijakan yang lebih atraktif di akhir tahun ini.

Alasan kedua adalah jumlah cadangan devisa yang tinggi. Cadangan devisa Indonesia mencapai US$128,6 miliar sehingga menjadi sentimen stabilitas nilai rupiah. "Alasan ketiga adalah global yield yang rendah dan akselerasi pertumbuhan ekonomi AS yang masih di bawah ekspektasi," sebutnya.

Menempatkan investasi di obligasi sering menjadi pilihan investor saat pasar keuangan bergejolak. Sebab, di jangka menengah hingga panjang, bunga obligasi kerap menawarkan imbal hasil menarik dan jauh berada di atas deposito perbankan.

Apalagi, imbal hasil obligasi adalah tetap. Selain obligasi, investasi pada instrumen pasar uang juga menunjukkan kinerja cemerlang hingga akhir tahun ini. Suku bunga simpanan seperti deposito di perbankan semakin turun menyusul langkah BI terus memangkas suku bunga acuan (7days reverse repo rate).