Langkah Memulai Investasi Untuk Pemula

Langkah Memulai Investasi Untuk Pemula
Langkah Memulai Investasi Untuk Pemula

Tak ada "rumus" bagi orang yang ingin menginvestasikan penghasilannya. Hal tersebut diutarakan oleh Aakar Abyasa Fidzuno, penasehat keuangan dan CEO Jouska Indonesia.

Sebelum berinvestasi, ujar Aakar, hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan portofolio investasi. Hanya ada dua portofolio investasi di dunia, yaitu saham dan utang (obligasi).

Sebagai investor pemula, kamu dapat membeli obligasi maupun saham di perusahaan sekuritas. Kamu juga bisa mencari informasi tentang kinerja emiten di internet. Bagaimana dengan emas? Untuk investasi emas (logam mulia), Aakar tidak menyarankan karena emas merupakan komoditi yang harganya ditentukan oleh ketersediaan barang dan permintaan pasar.

"Kalau investasi harus bisa menghasilkan cashflow dan collateral. Emas bisa collateral, cashflow nggak bisa karena harganya naik turun mengikuti pasar," ujar Aakar mengenai cara memulai investasi bagi pemula, Rabu (31/01/2018) di Jakarta.

Sebagai informasi, cashflow atau arus kas, seperti yang disinggung Aakar, merupakan kondisi keuangan mengenai jumlah uang masuk dan keluar, sedangkan collateral atau jaminan adalah barang nasabah yang digunakan sebagai agunan kredit.

Untuk "biaya" investasi, pria asal Malang ini tidak menyarankan menggunakan persentase 30 persen. Pembagian persentase seperti itu dinilai Aakar sudah tidak relevan, mengingat prioritas dan perilaku setiap orang berbeda-beda, terlebih jika seseorang telah menikah. Investasi bisa dimulai dari nominal "kecil" namun berkelanjutan. Kondisi ini juga berlaku pada pemula. Semakin cepat kamu berinvestasi, semakin banyak return yang diperoleh.

"Kalau mau gampang, mulai investasi saja dulu. Itu udah cara paling gampang. Buka akun investment, taruh duitnya di situ. Berapa? Senyamannya dulu, bisa 30 persen, 50 persen, bahkan 100 persen dari disposable incomes," tambah Aakar. Bukan berarti semua penghasilan harus kamu investasikan. Disposable income adalah penghasilan yang tersisa setelah dikurangi pajak dan biaya wajib lainnya.

Bapak dua anak ini juga menambahkan untuk jangan gampang kepincut imbal balik tinggi. Ia mengingatkan semua investor atau calon investor untuk tidak berinvestasi pada lembaga atau perusahaan investasi yang menawarkan return di atas bank dengan cepat. Karena bisa dipastikan, itu adalah investasi bodong atau praktik shadow banking alias lembaga keuangan non-bank yang melakukan praktik perbankan tetapi tidak di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Praktik tersebut sudah ada di Indonesia sekitar dua atau tiga tahun belakangan.

"Bentuknya bisa apapun, bisa koperasi, fintech, MLM. Perlu diketahui, shadow banking ini salah satu yg bikin China krisis," pungkasnya.

MORE FROM MY SITE