Bila Bisnis Sudah Stabil, Tak Ada Salahnya Lakukan Ekspansi

Bila Bisnis Sudah Stabil, Tak Ada Salahnya Lakukan Ekspansi

Semangat mendirikan bisnis sendiri nampaknya sedang mewabah di banyak tempat. Bila saat ini kamu juga sedang berjuang mewujudkan bisnis idaman yang sudah lama kamu impikan, kamu bisa memetik pelajaran dari perusahaan-perusahaan yang sudah lebih dahulu muncul.

Perihal ekspansi, banyak perusahaan melalui fase yang berbeda-beda. Lihat saja Go-Jek. Perusahaan yang awalnya adalah penyambung jasa ojek dengan pelanggan ini, kini sudah menjelma menjadi perusahaan on-demand yang menyajikan jasa sesuai kebutuhan pelanggan.

Hal serupa terjadi pada Lalamove. Perusahaan rintisan yang lahir pada 2013 lalu itu kini sudah menjelma menjadi raksasa logistik di Asia. Pencapaian itu berkat keberadaan internet yang membuat proses pemesanan dan pencocokan kendaraan untuk logistik menjadi lebih efisien, tidak lagi manual.

“Kami lakukan digitalisasi (untuk menjadi seperti itu),” kata Co-Founder dan CEO Lalamove Shing Chow seperti ditulis Kontan. Perusahaan yang awalnya bernama EasyVan ini lahir karena pendirinya terinspirasi konsep Uber.

Lulusan Stanford University itu berpikir untuk menerapkan konsep Uber di bidang logistik. Aturan logistik, katanya, tak seketat Uber. Selain itu, potensi bisnis logistik pun besar, mencapai US$1,7 triliun di Tiongkok saja.

Di Asia Tenggara, industri ini menempati 15% dari total nilai perekonomian. Karena itu, Chow menyediakan layanan logistik untuk pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang ingin memesan kendaraan untuk mengantar barang ke para pembeli (last mile).

Saat ini, Lalamove memiliki lebih dari dua juta mitra pengemudi dan 15 juta pengguna. Pelaku UKM yang menjadi target Lalamove pun loyal karena rekam jejak dan kinerja yang baik. Head of International Lalamove Blake Larson menyebut, perusahaannya memang menghindari strategi subsidi tarif.

“Perang diskon telah membuat ratusan layanan serupa di Tiongkok gulung tikar. Sebagai ganti diskon, Lalamove fokus menjadi perusahaan yang ramping dengan karyawan hanya 1.500 di 100 kota,” katanya.

Saat ini, Lalamove sudah beroperasi di 100 kota. Guna memperbesar bisnis, Lalamove yang sudah mengantongi pendanaan Seri C dari konsorsium yang dipimpin Shunwei Capital sebesar US$100 juta akan mulai ekspansi ke Indonesia dan Malaysia.

“Kami mencari kota-kota dengan jumlah penduduk sangat banyak, di mana kami melihat ada banyak fragmentasi, dan itu butuh perbaikan logistik,” ungkap Chow.

Partner MindWorks Ventures David Chang menambahkan, ronde baru pembiayaan US$100 juta itu akan memperluas dominasi Lalamove sebagai pemimpin regional dalam bisnis pengiriman barang daring sesuai permintaan.

MORE FROM MY SITE