Dapat Tugas Sampaikan Kabar Buruk Pada Rekan Kerja? Simak Panduannya
A- A+

Kabar butuk tentu bukan hal menyenangkan. Namun, bila suatu saat kamu mendapat tugas menyampaikan kabar semacam itu pada rekan kerja, mitra bisnis atau karyawan, kamu pun harus siap menjalankannya.

Agar tidak bingung, kamu bisa mengikuti langkah berikut seperti dilaporkan Entrepeneur.

Jangan Langsung Mengabarkan Semuanya Sekaligus
Meski sudah membuat persiapan, jangan memberi semua informasi sekaligus. Katakan sebagian dan lihat reaksinya. Demikian, kamu bisa menyiapkan waktu untuk dirimu sendiri dan menghormati orang lain.

Bila mungkin, kabarkan melalui surat elektronik terlebih dahulu. Setelah itu, kamu bisa mengatakannya via telepon atau berbicara langsung. Menyampaikan lewat bahasa tulis biasanya lebih akurat dan jelas dan mengurangi kemungkinan ada kesalahan.

Setelah mengabarkannya melalui surat elektronik, baru ceritakan secara langsung. Saat itu, kamu bisa menunjukkan empatimu yang memang tak bisa diungkapkan dengan tulisan. Kamu juga akan lebih jelas menilai gestur, suara maupun bahasa tubuhnya.

Kabarkan Berita, Bukan Opini atau Pembenaran
Jangan pernah melindungi, menyalahkan orang lain atau membuat pembenaran. Jangan katakan," Saya tidak yakin" atau "Saya tidak tahu".  Kabarkan sesuatu yang ingin kamu katakan dengan jelas.

Tidak Perlu Spesifik
Saat mengabarkan kabar buruk, yang penting adalah alasan jelas. Kamu tidak perlu mengabarkannya dengan rinci.

Jujur
Katakan hal yang sebenarnya dan jangan bohong meski dengan tujuan yang baik. Kebenaran selalu lebih baik meski kadang susah diterima.

Hormat dan Tunjukkan Empati
Gunakan nada bicara yang sopan. Bila kamu harus melakukan penolakan, katakan dengan nada bicara yang penuh pengertian.

Prinsip terpenting dalam mengabarkan berita buruk adalah, jangan sampaikan dengan cara meledak-ledak. Bila kamu termasuk orang yang mudah panik, kendalikan diri terlebih dahulu.

"Penting melatih komunikasi dan menjaga sikap. Demikian, bila sampai kehilangan kata, kamu bisa beralih menggunakan suret," saran Phin Barnes, salah satu eksekutif di San Francisco.

Lawan bicaramu, katanya, juga butuh waktu untuk mengerti. Karena itu, kamu juga harus memberikannya waktu. Seluruh bahasa dan sikap yang kamu gunakan, juga harus melambangkan rasa empati.

"Kamu perlu tahu apa harapan-harapan mereka di masa depan dan bagaimana upaya mereka mencapainya. Demikian, kamu bisa tahu bagaimana membuka dan mengakhiri percakapan," pungkasnya.