Fintech, Pengusik atau Pelengkap? (2)

Fintech, Pengusik atau Pelengkap? (2)

Hasil riset AFI, saat ini sedikitnya ada 120 perusahaan ini bergerak di sektor teknologi keuangan (fintech). Para pelaku ini merujuk pada pelaku industri jasa keuangan berbasis teknologi informasi.

Peningkatan jumlah perusahaan rintisan fintech sejalan dengan jumlah pemilik ponsel yang jauh lebih banyak dari jumlah pemilik rekening bank. Hal ini kian meyakinkan masa depan inklusi keuangan di Indonesia ada pada transaksi keuangan digital melalui perangkat mobile.

Di tengah upaya lembaga keuangan tradisional mempercepat penetrasi ke pasar yang belum tersentuh layanan keuangan, fintech hadir memberi layanan baru dengan nilai tambah. Karakter mobile, lincah dan dibangun untuk pelanggan membuat fintech memberi kontribusi dalam memasarkan produk keuangan dan mendorong pertumbuhan perekonomian nasional melalui transaksi konsumen secara digital.

Pertumbuhan pesat perusahaan rintisan fintech mendorong institusi keuangan tradisional untuk mengevaluasi kembali model bisnis inti mereka dan mulai memanfaatkan inovasi digital. Fintech sendiri lahir dan berkembang sesuai tuntutan zaman dan pasar ekonomi.

Proses pembayaran, transfer, jual beli, hingga pembiayaan diharapkan jadi makin praktis, aman dan modern. Kegiatan transaksi pun kini dapat dilakukan secara elektronik melalui ponsel pintar, tablet atau perangkat genggam lain.

Demikian, kehadiran fintech melengkapi rantai transaksi keuangan dan turut memperkuat ekosistem keuangan, bukan menggantikan peran institusi keuangan tradisional. Fintech mendukung peran bank atau lembaga keuangan memberi jasa keuangan pada nasabah.

“Juga membantu nasabah membuat keputusan keuangan, mengurangi biaya operasional dan risiko kerugian (misalnya akibat kredit macet) dan mengembangkan pasar karena fintech menjadi salah satu sarana meningkatkan pemasaran suatu produk di tengah industri keuangan, utamanya karena pemasaran produk secara daring (online) makin disukai publik,” paparnya.

Fintech saat ini sudah punya banyak fungsi, jadi tak hanya sebagai layanan transaksi keuangan daring. Hasil riset AFI melaporkan bahwa saat ini perusahaan fintech di Indonesia masih didominasi perusahaan pembayaran (44%), agregator (15%), pembiayaan (15%), perencana keuangan untuk personal maupun perusahaan (10%), crowdfunding (8%) dan lainnya (8%).

Pengembangan fintech yang sangat cepat pun menyentuh berbagai sektor keuangan mulai dari ritel, manajemen kekayaan, UKM, korporasi dan investasi perbankan serta asuransi. Hal ini menjadi kesempatan emas menjangkau masyarakat yang selama ini belum terjangkau layanan keuangan.

MORE FROM MY SITE