Jenis Bisnis E-Dagang Ini Akan Bersinar di Asia Tenggara Tahun Depan

Jenis Bisnis E-Dagang Ini Akan Bersinar di Asia Tenggara Tahun Depan

Perkembangan e-dagang semakin tak terbendung di Asia Tenggara, dan tentunya Indonesia. Terlebih lagi, sejumlah raksasa e-dagang seperti Alibaba dari Tiongkok mengambil langkah ekspansif.

Di Indonesia saja, Alibaba sudah masuk ke Tokopedia dan Lazada. Di Lazada, kepemilikan saham Alibaba bahkan mencapai 83%. Saingannya, Tencent, secara langsung juga sudah masuk ke beberapa perusahaan seperti JD.ID, Go-Jek, Traveloka dan Pamelo Fashion.

Karena itu, sebagai pebisnis, kamu harus tahu tren e-dagang di 2018 mendatang. Chief Marketing Officer aCommerce Group Sheji Ho menyebut, marketplace akan melintasi batas tradisional dan masuk ke sejumlah area seperti label pribadi dan distribusi offline di 2018.

"Mereka yang bertahan harus bisa menemukan niche yang menjanjikan, seperti fesyen atau rumah. Sudah tidak ada cukup ruang bagi pemain e-commerce horizontal besar lain," kata Sheji dilansir Bisnis Indonesia. Lebih lanjut, berikut tren bisnis e-dagang yang perlu kamu ketahui di 2018.

Pertama, e-dagang di Asia Tenggara akan semakin terbelah menjadi Alibaba dan Tencent. Jadi, kamu perlu memilih satu sisi dari keduanya. Dua perusahaan tersebut akan melakukan akuisisi pada banyak perusahaan atau menambah kepemilikan saham.

Kedua, hadapi pertumbuhan organik yang lambat, Amazon akan menempuh jalur akuisisi untuk mempercepat ekspansi e-dagang. Ketiga, pemain e-dagang akan masuk ke toko fisik untuk mengimbangi biaya akuisisi konsumen daring yang tinggi, memperbaiki last-mile fulfillment, dan mempercepat pertumbuhan.

Keempat, perusahaan rintisan e-dagang baru akan menggunakan Initial Coin Offering (semacam IPO dalam saham) untuk mengumpulkan dana demi melawan para raksasa. Kelima, 2018 akan menjadi gelombang konsolidasi e-dagang seiring para pemain lokal menyesuaikan diri dengan aturan dunia baru.

Keenam, Go-Pay akan menjelajah ke luar Indonesia melalui Sea, Traveloka dan JD akan menjadi WeChat Pay versi Asia Tenggara. Go-Pay, diprediksi akan menjawab masalah fundamental terkait populasi masyarakat yang belum tersentuh bank (unbanked) yang memungkinkan konsumen mengirim pembayaran antarsesama (peer-to-peer) dan mengisi ulang dengan memberi uang tunai pada sopir Go-Jek sebagai mesin ATM.

Ketujuh, marketplace mode dan kecantikan baru yang berbasis mobile akan mengisi kekosongan yang ditinggalkan Zalora. Kedelapan, marketplace akan lebih matang secara bisnis untuk melayani merek-merek mewah dan blue chip.

Dalam 6 tahun terakhir, kebanyakan e-dagang fokus meningkatkan penjualan daring dengan memasukkan semua penjual dan merek yang ingin berjualan. Kesembilan, e-dagang yang fokus pada bisnis business to business (B2B) akan mengganggu distributor offline dan mengaburkan batas antara distribusi offline dan daring.

MORE FROM MY SITE