Memahami Era Disrupsi Bisnis Ini dengan Lebih Baik

Memahami Era Disrupsi Bisnis Ini dengan Lebih Baik

Sebagai pemilik usaha, tentu kamu sudah tak asing lagi dengan pemberitaan mengenai banyak ritel konvensional gulung tikar karena konsumen lebih memilih berbelanja di ritel modern (daring).

Atau, transportasi daring yang kian menjadi pilihan utama dan proses elektronifikasi mulai merambah ke banyak hal, termasuk jalan tol. Kejadian semacam itu, merupakan gambaran era disrupsi.

Disrupsi akan membunuh siapa saja yang tak siap berubah. Guru Besar Universitas Indonesia (UI), mentor dan pakar manajemen Rhenald Kasali menyebut, proses disrupsi sebenarnya memberi tiga janji.

Pertama, disrupsi akan membuat semua pemain atau cara lama menjadi usang. Karena itu, korban disrupsi pertama adalah mereka yang tak cepat berubah, selalu menyalahkan pihak lain dan terus membentengi diri dari perubahan.

"Disrupsi, kendati mematikan incumbents yang tak berubah, akan selalu menciptakan dua jenis pasar dan lapangan pekerjaan baru yang lebih besar," kata Rhenald dalam tulisannya menyebutkan janji kedua yang terbit di liputan6.

Pasar yang dimaksud adalah low-end market untuk segmen menengah ke bawah bahkan kelompok pra sejahtera dengan produk yang harganya jauh lebih murah dan new market dengan bisnis dan tawaran-tawaran baru.

Janji ketiga, menurut pendiri Rumah Perubahan ini adalah, kesiapanmu sebagai pemilik bisnis untuk memasukkan self disruption dalam strategi bisnis yang akan kamu jalankan. Untuk lebih jelas menggambarkan proses disrupsi ini, Rhenald memberikan contoh nyata.

Menurut Rhenald, Indonesia punya beberapa role model. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) misalnya, perusahaan ini sukses beralih dari bisnis telepon kabel ke Telkomsel. Telkom juga kemudian menggunakan surplus dari bisnis untuk meremajakan diri.

Dalam hal riset dan teknologi, ada PT Pembangunan Perumahan Tbk (persero). PTPP menggunakan teknologi 3D Printing untuk mengubah peta bisnis konstruksi. Mereka juga memperbaiki talent management dan proses bisnis terkait disrupsi.

"PT Jasa Marga juga bisa menjadi referensi. Dalam menghadapi elektronifikasi, mereka justru menggunakan ancaman itu sebagai peluang memindahkan seribu petugas ke lokasi pekerjaan yang jauh lebih manusiawi. Tanpa elektronifikasi, pegawai-pegawai itu kemungkinan akan terus bekerja di dalam kubik kecil yang tak dilengkapi toilet, dekat asap knalpot kendaraan, dan terancam nyawanya oleh kecelakaan lalu lintas yang melaju kencang di sekitarnya," tulisnya.

Jasa Marga, kata Presiden Komisaris PT Angkasa Pura II (persero) ini, mengembangkan transformasi SDM ke dalam lima pilihan. Mulai dari pindah ke kantor pusat, anak perusahaan, sampai menjadi mitra usaha.

Tanpa elektrifikasi jalan tol, perusahaan mungkin tak mampu melihat dengan jelas potensi talenta dari SDM-nya yang ia miliki. Karena itu, Rhenald menganggap, adalah hal yang salah menilai disrupsi akan membuat orang kehilangan pekerjaan. Karena secara fisik, mereka semua masih bekerja.

"Hal paling sulit diubah adalah pola pikir. Tugas semua pihak adalah mengambil tindakan agar dua hal ini terpenuhi. Pertama, membuat bisnis dan produknya relevan di mata pelanggan. Kedua, membuat keterampilan kerja SDM relevan untuk terus bekerja selagi muda," pungkasnya.

MORE FROM MY SITE