Tetap Bertahan di Tengah Maraknya Transportasi Daring

Tetap Bertahan di Tengah Maraknya Transportasi Daring

Gelombang inovasi disruptif sedang melanda dunia bisnis. Hasil studi McKinsey Indonesia menyebutkan bahwa disrupsi terbesar terjadi pada bisnis manufaktur, ritel dan transportasi.

Di bisnis transportasi, kehadiran Gojek, Grab dan Uber yang menyediakan jasa transportasi daring (online) tentu memberi tantangan tersendiri bagi para penyedia jasa transportasi konvensional.

PT Express Transindo Utama Tbk (Taksi Express) saja harus merumahkan 250 karyawan karena merugi. Selain memangkas karyawan, mereka juga berencana menjual aset seperti kendaraan, tanah dan ruko.

Mengacu pada laporan keuangan mereka per 30 Juni 2017, pendapatan mereka turun menjadi Rp158,73 miliar. Padahal, pada Juni 2016, pendapatan Express masih di angka Rp374,06 miliar.

CEO Blue Bird Andre Djokosoetono yang merupakan generasi kedua dari perusahaan taksi itu pun mulai membenahi diri dari dalam setelah melihat tren tersebut. Dikutip Bisnis Indonesia, Andre kemudian mengukur daya tahan dan keberlanjutan bisnis perusahaan aplikasi transportasi daring seperti Uber, Grab dan Gojek.

Selama tarif transportasi daring masih mendapat subsidi, Andre menilai medan persaingan bisnis menjadi tidak sempurna. Karena itu, Andre mengatakan bahwa Blue Bird tidak memilih untuk masuk pada perang tarif sebagai ujung tombak persaingan. Blue Bird lebih memilih bermain pada kenyamanan dan keamanan pelanggan.

"Kami masih memiliki margin keuntungan sekitar 9%. Kalau akhirnya kami menurunkan tarif dan hanya bisa impas, saya tidak yakin hal ini akan membantu selama taksi daring masih disubsidi. Tidak ada gunanya untuk dilawan (dengan perang tarif)," sebut Andre.

Karena itu, dibanding perang tarif, Andre lebih memilih melakukan efisiensi agar dapat menjaga tingkat keuntungan (profitabilitas). Misalnya, Andre mencoba menambah pendapatan dari bisnis lain.

Selain taksi, Blue Bird juga masuk ke bisnis angkutan wisata dan bisnis melalui BigBird dan layanan komuter. Layanan wisata BigBird saat ini baru beroperasi di lokasi wisata di sekitar Jabodetabek hingga Jawa Barat dan akan diperluas ke daerah lain seperti Bali dan Surabaya.

Di samping itu, Big Bird juga bekerja sama beberapa sekolah internasional di Jakarta untuk transportasi antar jemput siswa. Blue Bird, kata Andre,  juga ikut program Jakarta Airport Connexion yang dikelola Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ).

Targetnya adalah pebisnis dan pelancong dari daerah dan luar negeri yang ingin mendapat layanan transportasi dari Bandara Soekarno-Hatta menuju beberapa hotel di kawasan
Jabodetabek dan sebaliknya.

Selain JA Connexion, ada pula JR Connexion yang melayani rute dari perumahan-perumahan di wilayah sekitar Jakarta. JR Connexion adalah layanan bus eksekutif yang menyasar warga menengah ke atas, khususnya pengguna mobil pribadi.

Blue Bird juga masuk ke usaha jasa angkutan kargo dan kontainer serta angkutan berat, Iron Bird. Dia juga memilih berkolaborasi transportasi daring serta fokus pada utilisasi kendaraan.

Saat ini, utilisasi taksi Bluebird sudah naik menjadi 14 perjalanan per hari. Tahun lalu, utilisasi Blue Bird hanya 12 kali sehari. Menghadapi persaingan di bisnis transportasi daring dan konvensional, pengamat transportasi Azas Tigor menyebut, pemerintah harus bersikap tegas.

Pemerintah, katanya, tidak boleh membiarkan perusahaan beroperasi tanpa ada regulasi jelas. Agar tidak ada lagi prahara, Tigor menyarankan pemerintah meniru langkah Singapura.

Sejak awal, negeri Singa itu mewajibkan perusahaan taksi daring mematuhi peraturan transportasi yang ada. Mereka juga menyetarakan peta persaingan bagi perusahaan taksi seperti tidak adanya monopoli satu taksi terhadap tempat tertentu, seperti hotel atau bandara.

"Di Singapura hotel tidak ada yang dimonopoli perusahaan taksi tertentu, semua boleh masuk. Siapa paling cepat dia dapat. Kalau di sini bukan cuma hotel, bandara juga dimonopoli. Di Singapura standar taksi juga bagus, tidak ada taksi bodong," saran Azas dikutip Detik.

MORE FROM MY SITE