Hindari Budaya Kerja Karoshi dan Seimbangkanlah Hidup
A- A+

Beberapa waktu lalu, Indonesia sempat dikejutkan oleh kematian seorang karyawan akibat lembur. Jadi, karyawan ini lebih banyak bekerja dan mengabaikan kondisi tubuhnya dan hanya sedikit istirahat.

Di Jepang, budaya banyak kerja dan lama lembur ini disebut karoshi. Mereka bisa bekerja sampai mati. Sejak Perang Dunia Kedua, Jepang memang sudah terkenal memiliki waktu kerja terpanjang.

Pada Oktober 2016 lalu, sebuah hasil survei menyebutkan, lebih dari 20% dari 20 ribu pekerja di Jepang memiliki kelebihan beban kerja sampai 80 jam sebulan. Mengutip Guardian dari sebuah survei, jam kerja di Jepang lebih tinggi dibanding di Amerika Serikat, Inggris dan Prancis.

Karena terlalu banyak bekerja, masyarakat Jepang mengaku sangat kurang tidur. Dalam sepekan, mereka bisa tidur hanya 10-15 jam saja. Hal itu menyebabkan pemerintah Jepang memberi imbauan khusus agar masyarakat berhenti bekerja, melakukan sosialisasi dan berlibur.

Di Jepang, sangat sedikit karyawan yang mengambil jatah cuti tahunan untuk berlibur. Padahal, secara keuangan, mereka punya pendapatan besar.

Lalu, mengapa mereka punya budaya karoshi?

Budaya Jepang menyebutkan pantang bagi mereka untuk pulang sebelum atasan pulang. Karena itu, kendati jam kerja dan pekerjaan sudah usai, mereka akan mengisi waktu dengan membaca laporan bisnis atau mengerjakan pekerjaan lain.

Akibatnya, mereka jadi terlalu banyak lembur dan hal ini memengaruhi kesehatan mereka. Lembur bisa memicu serangan jantung dan depresi. Tingginya tingkat bunuh diri di negeri matahari terbit ini, salah satunya juga akibat terlalu banyak bekerja.

Di Jepang, bila melihat rekan kerjamu sudah lelah dan mengantuk, kamu harus waspada. Ketika kamu merasa dia sedang tidur, bisa saja dia sudah meninggal. Begitulah gambaran karoshi di Jepang.

Jadi, sebanyak apapun tanggung jawab dan pekerjaanmu, jangan lupa istirahat, berlibur dan bersosialisasi.