Karyawan yang Kerap Kerja Larut Patut Dicurigai Produktivitasnya

Karyawan yang Kerap Kerja Larut Patut Dicurigai Produktivitasnya

Bagi sebagain orang, bekerja hingga larut malam merupakan indikasi produktivitas. Padahal, orang-orang yang lebih sering membalas email soal pekerjaan di jam-jam orang tidur, atau bekerja hingga pagi, patut dicurigai.

“Jadi, kalau ada anak buah saya yang membalas email di jam-jam aneh, saya akan meragukan produktivitasnya. Saya ragukan kecerdasan dan kreativitasnya,” ujar dr. Andreas Prasadja RPSGT saat ditemui Smart-Money di Sleep Disorder Clinic, RS Mitra Kemayoran.

Sebab, performa otak hanya bisa dijaga dan ditingkatkan dengan tidur. Tidur mampu memberikan efek restoratif yang berdampak positif dalam menjaga stabilitas mental yang berujung pada produktivitas seseorang.

Efek restoratif ini tak bisa digantikan dengan obat-obatan atau kafein. “Satu-satunya kunci untuk meningkat produktivitas dan kreativitas seseorang adalah dengan tidur. Untuk orang dewasa, kebutuhan tidur adalah 7-9 jam per hari,” katanya.

Bila ada anak muda yang tidur kurang dari itu, kata dr Andreas, bisa dipastikan produktivitas dan kreativitasnya kurang. Hal ini bisa dilihat dari potret fenomena zombie yang terjadi di Jakarta. Banyak anak muda yang kerja layaknya tak butuh tidur.

“Banyak anak muda mengklaim bisa produktif meski tidur hanya sebentar. Mereka memang bekerja, namun kreativitasnya sangat kurang. Indonesia sudah darurat kesehatan tidur. Padahal, solusinya sangat sederhana, yakni dengan tidur yang cukup,” ujarnya.

*Menyambut World Sleep Day atau Hari Kesehatan Tidur Sedunia pada 18 Maret 2016, Smart-Money menghadirkan beberapa artikel mengenai tidur.*

MORE FROM MY SITE