Mari Mengenal Beda Akuisisi Digital dan Tradisional
A- A+

Di era digital ini, kebutuhan bisnis dapat dipenuhi dengan dua cara. Yakni, dengan membangun sendiri atau melalui akuisisi. Lalu, mana yang lebih efektif? Jawabannya adalah, tergantung pada kebutuhan dan juga prosesnya.

Partner McKensie Indonesia Bruce Nicholas Delteil menyebutkan, akuisisi digital seperti membeli sebuah platform atau perusahaan rintisan bisa dilakukan.

Meski begitu, katanya, pemilik bisnis harus paham bahwa akuisisi digital memiliki karakteristik yang berbeda dengan akuisisi bisnis pada umumnya.

"Akuisisi bisnis secara tradisional memungkinkan terjadinya kesepakatan-kesepakatan bisnis. Besar juga terjadi kemungkinan adanya asimilasi atau penggabungan. Sedangkan akuisisi digital, tidak," kata Bruce berbicara di BCA Indonesia Knowledge Forum 2017.

Pada akuisisi digital, lanjutnya, seringkali pemilik bisnis bahkan belum pernah mendengar nama perusahaan dan manfaat (tujuan) pasti dari sebuah platform dalam membantu atau mendukung bisnis yang ia miliki.

"Saat Facebook membeli Whatsapp, mereka juga belum tahu untuk apa. Whatsapp saat itu juga bukan perusahaan besar dengan karyawan hanya 40 orang," tambahnya. Akuisisi digital menjadi penting bila terjadi proses memasukkan sebuah platform ke dalam ekosistem bisnis.

Setelah itu, baru bisa dilihat seperti apa perkembangan perusahaan rintisan tersebut ke depannya.

"Kita belum akan tahu seberapa besar dan seberapa banyak kebutuhannya. Kita hanya bisa melakukan investigasi dan menguji sejauh mana keunikan bisnis pada akhirnya," pungkasnya.