Melihat Valentine dari Sudut Pandang Ekonomi (1)
A- A+

Ada yang merasa menang, namun ada pula yang merasa gagal di valentine. Tak sedikit yang merayakan hari kasih sayang itu, pun tak sedikit pula yang merasa tertekan, terutama mereka yang sedang jomlo.

Sebagian orang merasa rasa jatuh cinta akan berlipat ganda di valentine. Namun, pernah membayangkan nilai valentine dari sudut pandang ekonomi. Hari kasih sayang ini menjadi ajang orang yang sedang mabuk asmara mendapat informasi seberapa besar komitmen pasangannya.

Jadi, tak heran bila para pakar keuangan seperti dilaporkan Time menilai 14 Februari merupakan merupakan upaya masif yang terkoordinasi. Pria dan wanita hanya punya sedikit pilihan.

Mereka akan mengeluarkan uang dan menghabiskan waktu untuk memastikan pasangannya merasa dicintai.

Menurut data National Retail Federation di Amerika Serikat (AS), warga AS menghabiskan US$19 miliar (Rp255,93 triliun) hanya untuk merayakan valentine pada 2015. Artinya, rata-rata orang akan mengeluarkan US$142 (Rp1,9 juta) untuk perayaan ini.

Di saat inilah menjadi jomlo saat valentine menjadi hal luar biasa. Meski demikian, pengeluaran besar itu bukan menjadi satu-satunya alasan. Guna memahaminya, kamu harus berada dalam kondisi sedang tak menjalin hubungan.

Kamu harus berpikir bahwa memberi kado merupakan sejenis ‘dilema narapidana,’ sebuah hasil yang menentukan apakah kamu tetap ingin berada dalam sebuah hubungan. Valentine merupakan permainan yang mewajibkan tiap orang punya salah satu dari dua strategi dalam berhubungan.

Yakni, strategi membeli kado atau tidak sama sekali. Tiap strategi punya tiga hasil yang mungkin terjadi. Pertama, pasangan saling membeli kado untuk memuaskan pasangannya demi memberi sinyal komitmen bagi hubungan mereka.

Berlanjut ke bagian kedua.