Pentingnya Kemampuan Mengatakan ‘Tidak’ Dalam Berkarier

Pentingnya Kemampuan Mengatakan ‘Tidak’ Dalam Berkarier

Dalam hubungan profesional antara atasan dan bawahan, kadang mengatakan tidak pada atasan seolah bukan pilihan. Mendiang pendiri Apple Steve Jobs berpesan mengenai pentingnya keberanian berkata tidak.

"Langkah ini bisa meningkatkan konsentrasi di banyak hal, jadi sangat penting untuk berani bilang tidak," katanya. Kamu tak per khawatir, pendiri Daya Lima Family Rozan Anwar memberi beberapa kiat untuk berkata tidak pada atasan seperti dilansir Femina.

Ukur Untung dan Rugi

Sebelum mengatakan tidak, ukur peluang dan risiko serta konsekuensi yang akan kamu tanggung ketika berkata ‘ya’. Simulasikan respons yang mungkin terjadi ketika berkata ‘tidak’. Hasil pengukuran ini akan membantumu menggambarkan kondisi saat ini pada atasan. Misalnya, kamu takut hasil tidak maksimal.

Tawarkan Kontribusi

Jangan biarkan atasan memikirkan solusi dari tindak asertifmu. Bantu atasan mencari tenaga pengganti untuk tugas yang sudah kamu tolak beserta alternatif solusi. Misal, tawarkan bantuan di bagian lain dari proyek tersebut yang masih mungkin kamu kerjakan dengan waktu yang kamu miliki.

Komunikasikan dengan Baik

Di era digital dan gaya hidup mobile, tatap muka adalah hal mewah. Bila hal ini yang terjadi, maka menyampaikan argumen secara langsung melalui telepon justru lebih berisiko. Lebih baik sampaikan penolakan secara tertulis, baik melalui aplikasi pesan singkat maupun surat elektronik (surel).

Demikian, kamu bisa benar-benar memikirkan kalimat dan merangkai logika dengan lebih baik serta pesan bisa jelas. Pastikan pula bahasanya profesional dan sopan seperti sedang bertatap muka langsung.

Hindari Alasan Panjang dan Detail

Jangan menjelaskan perincian daftar kerjamu pada atasan. Hal ini akan menimbulkan kesan bahwa kamu hanya mengukur loyalitas pada perusahaan sebatas hitungan untung-rugi. Langkah ini bisa menjadi bumerang bagi citra profesionalmu di mata atasan.

Minta Masukan dan Solusi

Pertama-tama, ungkapkan penghormatanmu pada keputusan atasan yang telah memilihmu untuk menyelesaikan tugas tambahan tersebut. Utarakan penilaianmu terhadap urutan prioritas terkait pemberian tugas ini bisa jadi salah.

Kamu juga bisa meminta bantuan atasan untuk mengatur kembali prioritas kerja, misalnya mencoret salah satu beban kerja sehingga memungkinkan mengerjakan tugas tambahan tersebut.

Kamu juga bisa mengajukan bantuan dari rekan atau junior kerja agar semua pekerjaan bisa selesai tepat waktu.

MORE FROM MY SITE