Siapkan Karier Anak Melalui Pola Pendidikan yang Tepat

Siapkan Karier Anak Melalui Pola Pendidikan yang Tepat

Bagi kamu yang baru saja menjadi atau akan menjadi orangtua, sudah memikirkan seperti apa bentuk pendidikan anak? Agar anak siap menghahapi persaingan di pasar tenaga kerja di masa depan, tentu kamu perlu membantu mereka menemukan bakat dan kemampuan diri sedini mungkin.

John Hopkins University pun melakukan studi Study of Mathematically Precocious Youth pada 5.000 anak berbakat dengan IQ minimal 130 alias jenius. Hasilnya, ternyata tak ada korelasi IQ tinggi dengan kesuksesan anak.

Hasil survei ini mengungkap, prestasi luar biasa berasal dari praktik dan keterampilan yang dilakukan secara terus menerus. Kedua, siapa saja bisa memperoleh kesuksesan, asal mau berusaha keras dan fokus pada apa yang ia lakukan.

Dalam jurnal tersebut, disebutkan pula bahwa dalam tahap awal pertumbuhan dan perkembangan anak, kemampuan kognitif lebih penting dibanding kecerdasan intelektual. Melalui kecerdasan kognitif yang baik, anak akan lebih mudah bergaul dan diterima lingkungan sosial.

"Anak-anak yang merupakan 1% ini akan menjadi peneliti dan akademisi," kata Psikolog dari Duke University Jonathan Wai seperti dilansir CNBC. Jadi, sebagai orangtua, kamu tak perlu mengasuh anak menjadi pribadi yang lebih cepat dewasa atau belajar lebih cepat dibanding rekan sebayanya.

Anak-anak yang lulus tepat waktu, akan lebih mudah mendapat gelar doktor dibanding mereka yang cerdas tetapi tidak sempat menyelesaikan studi. Merekalah inilah yang nantinya akan menduduki banyak posisi penting di puncak karier.

Mengacu penelitian ini, kamu juga dilarang keras mendidik anak menjadi jenius. Ke depan, hal ini akan menimbulkan masalah sosial dan emosional. Untuk itu, kamu bisa mencoba kiat menerapkan prinsip berikut.

Pertama, beri kesempatan untuk anak mendapat pengalaman yang beragam. Kedua, bila anak menunjukkan minat dan bakat tertentu, beri kesempatan mengembangkannya. Ketiga, dukung kebutuhan intelektual dan emosional anak.

Keempat, bantu anak mengembangkan "growth mindset" dengan memuji usaha anak, bukan kemampuannya. Kelima, dorong anak berani ambil risiko intelektual dan bersikap terbuka pada kegagalan. Kegagalan akan membuat mereka banyak belajar.

Keenam, waspadai upaya 'pelabelan' dari lingkungan sekitar. Hal ini bisa menjadi beban emosional di masa mendatang. Ketujuh, kerja sama guru sekolah terkait kebutuhan sang anak. Terakhir, ujilah kemampuan anak terhadap sesuatu.

MORE FROM MY SITE