Upaya Bank Kurangi Angka Kebutaan Nasional
A- A+

Menurut Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami), saat ini  angka kebutaan di Indonesia termasuk tinggi. Perdami mencatat, saat ini angka kebutaan di Indonesia mencapai 2,5% dari populasi yang ada di Indonesia.

“Kurang lebih ada 20 juta hingga 30 juta orang yang mengalami kebutaan. Sebanyak 50% dari total tersebut mengalami kebutaan akibat katarak,” ungkap Wakil Ketua SPBK Perdami dr. Ari Djatikusumo SpM.

Menurut Ari, banyak faktor yang menyebabkan angka kebutaan di Indonesia masih tinggi. Ia menyebutkan, faktor sumber daya manusia (SDM) dalam hal ini dokter mata, masih terbatas. Saat ini, anggota Perdami berjumlah sekitar 2.000 orang dan distribusinya belum merata, paling banyak di Jawa.

Artinya, rasio jumlah tenaga medis spesialis mata masih terlalu rendah, belum sesuai dengan populasi penduduk di Indonesia.

“Jadi, saudara yang tinggal di pelosok daerah dan luar pulau Jawa menjadi kesulitan mencari dokter mata. Selain itu, fasilitas yang mendukung untuk penyembuhan katarak juga masih belum merata dan mumpuni,” ungkap Ari.

Meski demikian, Ari bilang, bila kebutaan yang terjadi akibat katarak, maka kebutaan ini masih bisa direhabilitasi melalui operasi. Artinya, penglihatan pada pasien buta katarak masih bisa kembali pulih.

Dalam hal ini, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memberikan bantuan sebesar Rp500 juta. Perdami akan menggunakan donasi tersebut untuk membeli dua buah mikroskop yang memang dibutuhkan untuk melakukan operasi katarak.

“Perdami punya tenaga dan kita butuh peralatan. Dukungan BCA akan membantu kami melakukan pengadaan instrumen atau alat untuk operasi. Sebanyak dua mikroskop ini nanti akan kamu distribusikan di daerah untuk bisa melakukan operasi gratis,” katanya.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja juga menyadari masalah katarak ini. Ia sadar, katarak bisa menyerang siapapun, tak hanya masyarakat lanjut usia, juga mereka yang masih ada di usia produktif. Apalagi mereka yang bekerja di luar ruangan dengan paparan sinar matahari yang kuat di negara tropis dan kondisi gizi yang kurang bagus.

“Kondisi ini membuat kami konsisten mendukung SPBK Perdami menyelenggarakan operasi katarak secara berkesinambungan di berbagai daerah,” katanya.

Jahja melanjutkan, donasi BCA ini diharapkan bisa mendukung berlanjutan program operasi katarak gratis dari SPBK Perdami dan memberi kontribusi mewujudkan Indonesia bebas katarak pada 2020 mendatang.

Sebelumnya, BCA sudah menyumbang satu buah mikroskop senilai Rp385 juta pada 2014. Selain itu, pada 2015 BCA juga sudah menyumbang 13 alat bantu operasi dan dua alat biometri senilai Rp450,4 juta.