Ashraf Sinclair: Harus Akrab dengan Kegagalan Dalam Bisnis
A- A+

Nama Ashraf Sinclair memang lebih akrab dikenal sebagai selebritis dan suami artis Bunga Citra Lestari. Namun, beberapa tahun terakhir, artis asal Malaysia ini juga giat menjadi investor di beberapa perusahaan rintisan (startup) Tanah Air.

Ashraf menggunakan dana pribadi untuk masuk ke beberapa perusahaan rintisan lokal. Selain masuk di bisnis restoran, Ashraf juga menjadi investor di perusahaan kosmetik Korea Althea dan layanan video on-demand Iflix.

Di awal tahun ini, perusahaan modal ventura global berbasis di Silicon Valley bernama 500 Startups mengajak Ashraf menjadi salah satu mitra. Di Asia Tenggara, perusahaan ini punya target menggelontorkan Rp650 miliar ke 250 perusahaan rintisan.



Di Indonesia sendiri, perusahaan ini sudah masuk ke 100 perusahaan rintisan dengan suntikan dana pada tiap perusahaan mencapai US$50 juta sampai US$250 juta. Smart-Money mendapat kesempatan berbincang dengan pria ini di Indonesia Knowledge Forum 2017 belum lama ini.

Berikut nukilan alasan Ashraf mau menjadi investor dan pandangannya tentang potensi perusahaan rintisan di Tanah Air.

Alasan menjadi angel investor dan berinvestasi di perusahaan rintisan?

Dari dulu, saya selalu memacu diri meningkatkan kemampuan diri (scale-up). Sebagai selebritis, saya tidak puas hanya berkarier di Malaysia. Saya memutuskan harus melebarkan karier ke Indonesia karena peluangnya lebih besar.

Saya pun pindah ke Indonesia dan kebetulan berjodoh dengan orang Indonesia. Ketika saya pindah, media sosial mulai menjamur di Indonesia. Setelah itu, saya  lihat banyak anak-anak muda yang memiliki bakat bagus mendirikan perusahaan rintisan.

Saya merasa, dengan apa yang saya punya, saya bisa membantu mereka tumbuh menjadi lebih besar. Saya menggunakan uang pribadi untuk menjadi angel investor di beberapa perusahaan rintisan.

Meski begitu, uang saya terbatas. Sampai pada akhirnya, saya tahu bahwa dengan bergabung ke komunitas yang lebih besar, saya bisa membantu lebih banyak (perusahaan rintisan). 500 Startups pun mengajak saya bergabung menjadi salah satu mitra di awal tahun lalu.

Saya merasa terhormat menjadi salah satu bagian dari mereka.

Hal baru apa yang ditemui setelah bergabung 500 Startups?

Saya melihat visi yang menarik sekali pada banyak orang. Mereka punya komitmen besar membantu orang lain dalam mengembangkan bisnis agar lebih maju. Mereka sudah ada di 20 negara dan berinvestasi di 60 negara.

Setidaknya, mereka sudah masuk ke 1.800 perusahaan rintisan. Di Indonesia, 500 Startups sudah masuk ke 30 perusahan rintisan seperti Hijup, Fabelio, Bukalapak, Bro.do, Kudo dan lainnya.

Perusahaan rintisan di bidang apa yang menjadi fokus 500 Startups?

Kita tidak hanya berfokus pada salah satu bidang bisnis. 500 Startups terbuka pada tiap jenis perusahaan rintisan, asalkan menarik. Fokus kami justru pada bagaimana agar mereka bisa meningkatkan usahanya.

Saat ini, bukan lagi era ikan yang besar akan memakan ikan kecil. Sekarang era ikan yang cepat bisa memakan ikan yang lambat. Bukan lagi pada ukuran.

banyak investor masuk ke perusahaan rintisan lokal di tahap awal (seed atau early stage). Apa pertimbangan investor sebelum masuk dan menanamkan modal?

Ada beberapa hal. Pertama misalnya, kita akan melihat dari sisi kapasitas dan kemampuan founder. Bagaimana mereka menemukan rekan kerja (co-founder) dan menyusun tim. Itu menjadi salah satu pertimbangan pertama.

Menemukan tim yang bagus bukan pekerjaan mudah. Kita juga akan melihat bagaimana kemampuan founder mengeksekusi bisnis. Kedua, kita melihat apakah mereka sudah memiliki produk atau hasil.

Bagaimana juga kemampuan perusahaan rintisan mengeksekusi hasilnya? 500 Startups juga akan melihat bagaimana mereka menjalankan bisnis secara umum.

Menjalankan perusahaan rintisan punya tantangan tersendiri. Apakah masuknya investor dalam membesarkan skala usaha selalu menjadi tujuan mereka?

Salah satu perusahaan rintisan yang sudah kami masuki adalah Bro.do. Pada awalnya, mereka hanya anak-anak muda yang menjual sepatu melalui media sosial seperti Facebook. Mereka mengaku bisa mendapat penghasilan dari sana.

Biaya produksi dan operasional tidak mengalami masalah. Namun, di sisi lain, mereka terus membuka diri. Founder perusahaan ini sadar bahwa investor tak hanya ada untuk menyuntikkan modal.

Bila bisnis sudah bagus, investor bisa hadir untuk berbagi pengalaman dan pandangan bisnis. Mereka juga bisa menjadi mentor. Kita tidak tahu bahwa melalui mereka, akan ada kesempatan yang lebih besar di depan mata.

Secara ukuran, Gojek terbilang besar namun secara keuangan belum untung. Meski demikian, perusahaan ini masih terus mendapat suntikan dana. Apa yang menjadi pertimbangan investor?

Saat ini memang belum ada untung. Namun, kita melihat dari apa yang mereka lakukan hari ini adalah sebuah aset yang besar. Kita melihat ada nilai (value) yang besar untuk masa mendatang. Kepemilikan data dan basis data yang besar misalnya, itu sebuah aset besar.

Di Indonesia, meski ekosistem sudah mulai terbentuk, banyak perusahaan rintisan gulung tikar. Apa penyebab kegagalan-kegagalan tersebut?

Kegagalan bagi para founder adalah hal yang biasa. Satu gagal berarti harus ada upaya untuk mencoba lagi. Kegagalan bagi founder juga harus dilihat dari sisi pandang lain. Gagal mendapatkan x tetapi mendapatkan y.

Bukankah itu sebuah pencapaian baru? Semua founder saya pikir harus sudah akrab dengan kegagalan.

Pesan untuk mereka yang baru masuk atau sedang bergelut dengan perusahaan rintisan?

Mulai saja dulu. Mulai dari saat ini, sekarang dan jangan pernah menunda. Saat ini semuanya harus cepat atau akan lewat (tertinggal).