Bingung Pilih Jenis Bisnis Daring? Pertimbangkan Ini

Bingung Pilih Jenis Bisnis Daring? Pertimbangkan Ini

Sejak beberapa tahun terakhir, bisnis di e-commerce (e-dagang) memang sedang naik daun. Banyak orang berlomba-lomba mendirikan bisnisnya sendiri karena kemudian yang ditawarkan.

Bila mendirikan bisnis di e-dagang, kamu tidak perlu keluar uang untuk mendirikan toko fisik, cukup menyediakan produk unik yang sekiranya akan memiliki banyak peminak. Contoh paling sederhana adalah mereka yang berdagang memanfaatkan media sosial.

Menurut data IDC pun, besar pasar e-dagang pun diperkirakan terus mengalami peningkatan hingga 2020 mendatang. Di tahun lalu, besar pasar e-dagang mencapai US$469,1 juta (Rp6,24 triliun).

Di tahun ini, diperkirakan akan membesar menjadi US$966,5 juta (Rp12,85 triliun) dan mencapai US$1.864 juta (Rp24,8 triliun). Dari proyeksi tersebut, tentu kamu masih memiliki kesempatan untuk ikut mendapatkan keuntungan.

Lalu bagaimana menentukan bisnis apa yang cocok dan punya peluang besar? Kamu bisa memulainya dengan melihat perilaku, aktivitas serta faktor-faktor yang mendorong konsumen berbelanja daring (online).

Menurut IDC, ketika mengakses internet, orang Indonesia kebanyakan masih fokus pada komunikasi, hiburan dan media sosial. Terbukti, sebanyak 17,8% kegiatan orang Indonesia ketika daring dipakai untuk mengakses dan berkolaborasi menggunakan surat elektronik (surel).

Kemudian, sebanyak 17,3% kegiatan adalah untuk hiburan, 15,6% untuk media sosial pribadi, 14,6% untuk membaca berita, 12,9% untuk membangun jejaring profesional dan 8,4% untuk bermain gim daring.

Sedangkan untuk berbelanja daring, persentasenya mencapai 13,3%. Artinya, ada proses jual beli dan peluang yang bisa kamu manfaatkan. Selanjutnya, kamu juga perlu mengetahui faktor-faktor apa saja yang mendorong dan menghambat orang dalam belanja daring.

Pendorong terbesar orang berbelanja daring adalah kenyamanan (82,6%). Kemudian fleksibilitas waktu (65,1%), promosi menarik (54,4%), kemudahan pembelian (36,6%) dan ragam produk (28,9%).

Sedangkan penghambat terbesar adalah tidak bisa mencoba barang (68,5%), spesifikasi produk yang tidak jelas (57,7%), metode pembayaran yang tidak aman (57,7%), penipuan (44,3%), dan proses pembelian yang rumit (14,1%).

Setelah mengetahui apa yang menjadi pendorong dan penghambat tersebut, kamu bisa menyusun strategimu sendiri untuk menjawab keresahan konsumen. Misalnya, mulai membiasakan memberikan informasi yang lebih lengkap pada produk yang kamu jual.

Mulai menyederhanakan proses pembelian maupun pembayaran barang serta memastikan keamanannya. Demikian, konsumen tidak akan segan untuk melakukan pembelian. Lalu, bagaimana dengan produk yang masih menjanjikan?

Menurut hasil riset IDC, saat ini konsumen masih terfokus pada pembelian produk fesyen dan kebutuhan pelesir. Kedua produk ini memiliki persentase pembelian tertinggi dibanding produk lain seperti kebutuhan harian, elektronik dan gawai (gadget).

Pada produk fesyen, ketika orang mengaksesnya secara daring, ada kesempatan terjadi pembelian sebesar 51,7%. Sedangkan produk kebutuhan pelesir, kesempatannya mencapai 47,7%.

Jadi, akan mulai bisnis apa?

MORE FROM MY SITE