Bisnis Vending Machine Lepas Landas di 2018? (1)

Bisnis Vending Machine Lepas Landas di 2018? (1)

Di Indonesia, pasar Vending Machine (VM) memang belum seramai dan sematang di Jepang. Di negeri matahari terbit itu, segala sesuatu bisa dijual melalui VM, mulai dari makanan, minuman, hingga mainan.

“Bahkan, tersedia rata-rata 1 VM untuk 23 orang di Jepang,” ujar Lalu Athma Sasmita, pendiri perusahaan penyewaan dan operator VM PT Jatari Boreas Sabha (Jatari Vending).

Pasar VM di Indonesia masih terbilang masuk tahap bayi. Buktinya, hingga 2016, hanya ada lima pemain besar yang bersaing di pasar VM, salah satunya Jatari Vending. Selain itu, dibanding negara tetangga seperti Singapura, negara itu sudah punya 15 ribu VM untuk 15 juta penduduk.

Di Malaysia, sudah ada 45 ribu VM untuk 30,8 juta penduduknya. “Di Indonesia, saat ini baru ada sekitar  4.000 VM untuk lebih dari 250 juta penduduk. Tentu potensi pasar VM di Indonesia masih sangat besar, bisa dibilang blue ocean,” katanya.

Menurut W Chan Kim dan Renee Maugorgne dalam buku ‘Blue Ocean Strategy,’ blue ocean mengindikasikan bahwa pasar ini (khususnya VM) masih sangat besar atau bahkan belum diketahui nilainya.

Bukti lain yang menunjukkan bahwa pasar ini masih punya potensi besar adalah tidak adanya teknisi VM. Artinya, masih belum banyak pelaku bisnis yang melirik pasar ini.

Namun, Athma optimistis, pasar VM di Indonesia bisa matang dalam dua tahun ke depan. “Perkiraan saya, di 2018 bisnis ini akan take off. Momen ini bertepatan dengan makin terbiasanya masyarakat menggunakan uang elektronik dan selesainya proyek MRT dan LRT,” ujarnya.

Bagi Athma, bisnis VM sangat mengandalkan lokasi. Lokasi menjadi faktor yang sangat menentukan sukses atau tidaknya bisnis. Tak heran, untuk menentukan lokasi yang tepat, Athma rela menghabiskan waktu hingga dua pekan untuk mengetahui pergerakan orang di lokasi tersebut, banyaknya pesaing dan buying power penduduk di lokasi itu.

“Kami juga harus pastikan dalam radius tertentu tidak ada minimarket. Sebab hal ini akan menentukan hidup matinya VM. Namun, target kami akan tetap di tempat ramai, khususnya ruang publik dimana people traffic, daya beli dan kebutuhan bersinergi,” ungkap pria yang menyebut bahwa VM di Indonesia saat ini 80% lebih banyak digunakan untuk menjual minuman.

Menurut Athma, lokasi dinyatakan strategis dan bagus bila dalam sepekan satu mesin VM bisa menghasilkan setidaknya Rp4 juta. “Bila dalam tiga bulan target per pekan tidak tercapai setelah kami evaluasi, mesin VM kami cabut dan pindah lokasikan,” katanya.

Selain kinerja mesin, Athma yang butuh tiga tahun (2010-2013) hingga yakin bisnis ini punya potensi besar juga melakukan evaluasi produk yang laris, untuk produk yang tidak laku akan langsung diganti.

Berlanjut ke bagian kedua untuk mengetahui perkiraan balik modal bisnis ini dan strategi Athma masuk pasar.

MORE FROM MY SITE