Ketulusan Jadi Kunci Chandra Gupta Sukses di Industri Salon (2)
A- A+

Dalam keluarga besar Chandra, 12 bersaudara, Evi, kakak nomor 6, sudah lebih dulu berkecimpung di bidang salon sebagai hairdresser. Chandra kecil yang merupakan anak nomor 9 di keluarga, terbilang anak yang badung dan kerap membuat orang tuanya menggelengkan kepala bila ingat sepak terjangnya.

Di masa remaja, saat duduk di bangku SMP, Chandra belum menyadari bakatnya sebagai penata rambut.

“Saya sering mencuri gunting kakak saya, Evi. Gunting ini saya pakai untuk menggunting rambut teman-teman. Kakak saya juga sering menangis karena guntingnya sering saya hilangkan,” ungkapnya.

Ketika di kelas 1 SMP, Chandra sempat tinggal kelas. Pasalnya, tiap Senin, di sekolah Chandra selalu ada pemeriksaan rambut.

“Saat itu, rambut saya gondrong sebahu. Saat ujian kenaikan kelas, wali kelas guru mencukur rambut kebanggaan saya itu asal-asalan. Saya marah dan memukul wali kelas saya. Gara-gara kejadian ini, saya tinggal kelas dan menggunduli kepala saya hingga lulus SMP,” kenangnya.

Lepas dari SMP, Chandra mulai mencari sekolah yang menurutnya tak mengurusi soal rambut. Pilihannya melanjutkan sekolah di STM Jurusan Teknik Mesin. “Ternyata saya salah pilih. Kebebasan yang saya dapatkan membuat saya tidak terkendali. Hal ini membuat saya tidak nyaman sendiri,” katanya.

Tepat sepekan menjelang ujian kelulusan STM, Chandra malah berkelahi dengan salah satu seniornya. Hal ini membuatnya dikeluarkan dari sekolah. “Hingga hari ini, tak ada satu orang pun yang tahu saya tidak tamat STM. Bahkan ibu saya,” kenang Chandra.

Dari sini, karena masih ingin meneruskan sekolah, Chandra memutuskan pindah ke SMA umum. Di sini, perangai Chandra semakin menjadi-jadi, ia menjadi semakin nakal, senang bergadang, dan lagi-lagi kerap mengambil gunting kakaknya dan menghilangkannya setelah digunakan untuk memotong rambut teman-temannya.

“Ibu saya sangat prihatin terhadap saya. Menjelang usia 20 tahun, saya bertekad untuk bekerja dan tidak menyakiti hati orang tua lagi, terutama ibu saya,” katanya.

Chandra akhirnya mendapat pekerjaan menjadi penjaga toko pakaian di sebuah mal. Di jam istirahat, ia keliling kompleks toko untuk mencukur rambut orang-orang di sana. Tentu saja gratis.

“Saya sadar, ini passion saya. Saya memang senang menata rambut orang. Saya senang melihat penampilan teman saya menjadi lebih rapi,” katanya.

Chandra ingat, ada seorang temannya yang menanyakan cita-citanya. “Saya jawab ingin jadi tukang cukur. Saya pikir, rambut selalu tumbuh, jadi saya tidak akan kehabisan pekerjaan,” katanya.

Hanya bertahan sekitar satu tahun, Chandra berhenti bekerja dan menganggur. Evi yang sudah lama melihat kebiasaan Chandra yang senang mencukur rambut orang. Akhirnya, membiayai Chandra kursus di Eiffel Hairdressing School, untuk mendapat pendidikan formal.

“Dari situ saya bisa fokus latihan menata rambut dan tak terpikir untuk nakal lagi. Kakak saya sudah membiayai biaya pendidikan selama tiga bulan sebesar Rp150 ribu (1981). Dia sangat berjasa dalam hidup saya. Setelah tamat, saya malah diminta mengajar di sekolah itu,” kisah Chandra.

Setahun mengajar di sekolah ini, Chandra merasa ingin tantangan lebih. Ia pun memilih untuk kerja di salon pada 1983. Tak lama, seorang teman mengajak Chandra bergabung dengan salonnya.

Sayangnya, setahun kemudian, kongsi antara teman Chandra dan investor salon tersebut harus pisah. Kemudian, Chandra meneruskan salon ini sendiri hingga 1987. “Saat itu, saya belum terpikir untuk mendirikan salon sendiri,” katanya.

Berkat tangan dingin Chandra, usaha salon itu berkembang. Akhirnya, Chandra pun nekat menyewa ruko dengan modal apa adanya dan mendirikan salon dengan merek namanya sendiri.

“Saya jual mobil untuk sewa ruko di Roxy. Waktu itu, mobil saya laku Rp13 juta, hanya cukup untuk 2 tahun sewa. Saya ingin salon ini menggunakan nama saya sendiri karena sebelumnya saya hanya membawa nama orang lain,” katanya.

Di salon baru ini yang dia beri nama Chandra Gupta Hair and Beauty Salon ini, Chandra mendidik sendiri semua pegawai. Seiring waktu berjalan, bisnis makin  maju. Setengah tahun jelang masa kontrak sewa ruko habis, pemilik ruko memberi harga yang sangat mahal.

“Saya putuskan untuk pindah dan berani mencicil ruko sendiri pada 1990. Ternyata bisnis semakin maju. Namun, beberapa waktu berjalan, lokasi ini menjadi  kurang bagus untuk bisnis, karena lahan parkir yang sempit dan kondisi jalan yang rusak,” ujarnya.

Untungnya, ada pelanggan Chandra yang bekerja sebagai tim pemasaran di Mal Taman Anggrek (MTA). Akhirnya, Chandra ditawari tempat di mal tersebut. Di saat uang tidak ada, dan secara hitungan bisnis tidak masuk, Chandra tetap memberanikan diri untuk mengambil lokasi di mal tersebut.

Insting Chandra terbukti benar. Seiring berkembangnya kota, makin banyak orang lebih senang masuk mal, termasuk untuk menyambangi salon. Pada 24 Desember 2001, Chandra dan tim resmi masuk MTA dengan jam operasional pukul 09.00 hingga 22.00.

Dari situlah, cabang Chandra Gupta Hair and Beauty Salon terus bertambah bahkan merambah Solo, Yogyakarta dan Surabaya melalui jalur waralaba. Kini, Chandra masih mempunyai mimpi, menjadi penata rambut terbaik di negeri ini.

“Karena pada tiap kepala pelanggan Chandra Gupta ada kebanggaan saya terhadap profesi saya,“ pungkasnya.