Mengupas Peluang dan Tantangan Film Indie (2)

Mengupas Peluang dan Tatangan Film Indie (2)
Mengupas Peluang dan Tatangan Film Indie (2)

Soal anggaran, Anggi tidak sependapat bahwa film di luar arus utama pasti dibuat dengan anggaran murah. Sebab, lanjut Anggi, tiap film punya riwayat proses, kepantasan dan beban sendiri.

Menyambung Anggi, sutradara film pendek Sofyana Ali Bindiar menganggap bahwa masyarakat salah kaprah menganggap bahwa film indie merupakan film yang tak punya anggaran atau yang tekniknya berantakan.

Pria dengan sapaan Ale itu itu pun menyayangkan bahwa industri perfilman Indonesia belum semapan di luar negeri. Di Hollywood misalnya. Hollywood memiliki pembagian jelas untuk film indie dan film mainstream.

Film mainstream diproduksi studio besar seperti Disney, Century Fox atau Warner Brothers. Sedangkan film indie diproduksi studio di luar studio besar. "Tentunya, pesan dari film yang disampaikan pun berbeda," katanya seperti dikutip Bisnis.

Ale melanjutkan, regulasi pun masih menjadi salah satu kendala dari industri perfilman. "Suatu industri bisa maju tidak terlepas dari campur tangan pemerintah. Perfilman Korea pernah mengalami hal serupa Indonesia saat ini pada 1960-1970an. Namun, filmmaker di sana berani melakukan perlawanan sehingga pemerintah Korea lebih sadar pada perkembangan filmnya," paparnya.

Ale melanjutkan, pemerintah Korea memiliki kebijakan, bila ada film Hollywood masuk, akan dikenakan pajak dan dari pajak itu membantu menghidupkan produksi film-film lokal. Selain regulasi, belum jelasnya status industri perfilman di Indonesia juga pembuat film indie kesulitan mencari pinjaman ke bank karena tidak memiliki jaminan yang pasti.

"Semua kendala ini menjadi tantangan pembuat film. Film indie punya banyak tema. Kembali lagi karena isinya yang bukan pesanan, melainkan kebebasan filmmaker. Dari sisi pembuat film, mereka mengharapkan filmnya membangun penyadaran pada masyarakat dari film bertemakan sosial," pungkas Ale.

MORE FROM MY SITE