Ramadhan Bawa Berkah, Zulfendri Sukses Dagang Kaos di Tanah Abang

Ramadhan Bawa Berkah, Zulfendri Sukses Dagang Kaos di Tanah Abang

Bulan suci Ramadhan, merupakan bulan yang penuh berkah. Karena, pada bulan Ramadhan banyak bisnis yang melonjak tajam, salah satunya di pusat grosir terbesar di Asia Tenggara, Tanah Abang. Di tempat ini omzet pedagang tidak hanya meningkat tajam, tetapi perputaran uang pun lebih cepat bergulir.

Zulfendri, salah satu pedagang kaos di Pusat Grosir Metro Tanah Abang mengaku, omzet bisa mencapai dua kali lipat jika dibanding dengan bulan-bulan biasa. “Omzet kami naik kurang lebih 40% seiring dengan lonjakan pengunjung yang mencari kebutuhan Ramadhan dan Lebaran,” tuturnya.

Zulfendri merupakan anak ke enam dari delapan bersaudara, sejak tahun 1999 ia memutuskan untuk merantau dari kampung halamannya Solok, Sumatera Barat ke Jakarta untuk menjadi pedagang. Berdagang baginya sudah menjadi darah daging, karena sejak kecil ia sudah biasa melihat orang tuanya berjualan beras.

Saat berada di Jakarta, ia tak langsung berdagang sendiri. Tetapi ia magang terlebih dahulu di toko sang kakak, yang berada di Pasar Tanah Abang Blok F. Saat magang di toko sang kakak, Zulfendri banyak sekali mendapatkan ilmu yang sangat berguna bagi usahanya kelak. Mulai dari memilih kaos, melakukan pesanan hingga pengiriman barang pada para pelanggan.

Memasuki tahun 2007, setelah dirinya merasa cukup banyak belajar dari sang kakak. Akhirnya Zulfendri di berikan bantuan modal dari sang kakak senilai Rp 42 juta untuk memulai usaha sendiri. Modal tersebut digunakannya untuk menyewa kios di Pusat Grosir Metro Tanah Abang dan membeli barang dagangan berupa kaos.

Ia sempat mengalami jatuh bangun pada tahun pertama, karena minimnya pembeli yang datang ke toko. Namun hal tersebut tak membuatnya putus asa, ia memutar otak dan membanting stir menjual jaket yang kala itu sedang booming.

“Alhamdulillah, respon masyarakat cukup positif. Usaha saya lancar sehingga mampu menutup pembayaran sewa kios yang cukup mahal,” ucapnya syukur. Kecilnya margin dari penjualan jaket juga membuatnya kembali melirik kaos, khususnya kaos untuk pangsa pasar remaja pria hingga 35 tahunan.

Untuk mempelajari mode dan tren kaos, Zulfendri rajin memutari mall-mall yang ada di Jakarta. Serta ia mau belajar dari pengalaman dan tekun dalam bekerja, maka usaha yang dirintisnya membuahkan hasil. Pada 2008-2009 toko kaos yang diberinama “Soundtrax” mencapai omzet  miliaran rupiah.

Dalam upaya membesarkan bisnis yang dirintis Zulfendri bersama tiga saudaranya. Soundtrax mendapatkan bantuan modal usaha dari BCA untuk mendirikan pabrik kaos.

Selain memperkuat produksi, Zulfendri berencana meningkatkan kualitas dan varian mode kaos yang dijualnya agar pasarnya semakin luas. Bahkan ia berencana mengeluarkan sebuah brand kaos baru menyasar pasar menengah atas dan membuka beberapa toko di lokasi lain di Jabodetabek.

Di umurnya yang masih relatif muda, Zulfendri telah menikmati hasil dari kerja kerasnya. Kini ia memiliki dua toko. Satu toko khusus menjual kaos pria, dan satu  lagi menjual fashion batik  yang dibukanya bersama sang istri pada tahun 2008. Bagi Zulfendri, sukses adalah perpaduan antara bakat, kerja keras dan pengalaman. Dan yang tak kalah penting doa sang istri dan orang tua di kampong halaman.

MORE FROM MY SITE