Merek Kami Sempat Dikira Produk Luar (1)

Merek Kami Sempat Dikira Produk Luar (1)
Merek Kami Sempat Dikira Produk Luar (1)

Ide-ide dan jiwa pengusaha para pemuda Indonesia tidak bisa disepelekan. Hal ini terlihat dari maraknya perusahaan rintisan (startup), industri-industri kreatif kecil, hingga restoran dengan konsep unik dan kekinian yang banyak bermunculan.

Adalah Brodo, merek (brand) sepatu lokal asal Bandung yang berhasil bertahan setelah didirikan Yukka Harlanda dan Putera Dwi Kurnia saat masih berstatus sebagai mahasiswa pada 2010. Bisnis sepatu ini berawal karena keinginan menjual 'sisa' sepatu yang dibuat untuk digunakan sendiri.

Jalur daring (online) menjadi pilihan Yukka dalam memasarkan sepatunya. Saat memulai Brodo, Yukka dan Putera sama sekali tak memiliki pengetahuan soal tren produk sepatu dan pemasaran digital yang mereka jalani.

Kemudian, seiring berjalannya waktu dan banyak permintaan dari pelanggan, Brodo akhirnya membuka toko pertama di Jakarta, tepatnya di Jalan Bangka, Kemang. Ditemui di Brodo Kemang, Yukka yang berpenampilan santai sambil mengudap protein bar bercerita banyak pada tim Smart-Money soal dunia pemasaran digital yang berhasil membuat usaha mereka bisa bertahan hingga berusia 6 tahun.

Berikut nukilannya.

Mengapa memilih jalur online pada awal penjualan?

Jujur, di awal mulai menjual sepatu, kami sama sekali tidak punya pengetahuan sedikitpun mengenai dunia digital atau pemasaran produk. Yang kami tahu, bila ingin memasarkan produk ada beberapa jalur, misalnya buat toko, konsinyasi, atau menjual sendiri lewat internet.

Dari ketiga jalur itu, jalur online adalah jalan yang paling bisa kami jangkau karena paling murah, malah gratis. Karena modal sangat terbatas, jadi sudah pasti kami memilih jalur online. Buat kami, di awal ketika tidak punya modal, internet atau memasarkan produk secara online adalah cara pemasaran paling efektif dan murah yang bisa menjangkau pasar yang luas.

Tidak cuma itu, kadang, kami juga meng-endorse beberapa artis untuk membantu pemasaran. Tapi, untuk endorse kami juga tidak terlalu gila-gilaan dan jujur pilih-pilih artis. Selain itu, kami sering mengirim produk ke teman-teman yang ada di luar negeri hingga akhirnya jadilah foto-foto keren yang kami gunakan untuk menunjang pemasaran.

Dari sana, peristiwa epik kami alami, brand kami pernah dikira brand luar.

Apa strategi pemasaran digital yang Brodo lakukan sejak awal berdiri sampai sekarang?

Membicarakan strategi, yang kami jalankan dari dulu hingga sekarang pasti berbeda-beda. Menurut kami, tidak ada satu strategi khusus yang bertahan lama di dunia digital. Dulu, kami cuma pakai Facebook page dan BBM (Blackberry Messenger).

Kemudian, semua pelanggan yang datang dari Facebook dilempar ke BBM. Begitu siklusnya. Cara ini berjalan hingga dua tahun. Tahun berikutnya, kami ganti lewat media sosial hingga akhirnya punya situs sendiri.

Ketika sudah memiliki situs, kami menggunakan iklan berbayar yang disediakan Google. Kami ikuti tren saja untuk masalah ini.

img_3221

Apa tantangan menjual produk secara online?

Tantangan berjualan di dunia online adalah membangun kepercayaan pelanggan. Kalau kami jual produk dengan brand yang sudah dikenal, pasti akan lebih gampang. Sedangkan produk kami, brand dan produk sama-sama belum jelas.

Ini menjadi tantangan buat kami mencari cara membangun kepercayaan pelanggan. Akhirnya, kami mengeluarkan kebijakan 'penukaran barang' bila ada pembeli yang tidak puas dengan produk kami atau mungkin ukuran sepatu yang mereka beli tidak muat saat barang sampai.

Semua ongkos kirim pasti kami ganti. Ini kemudian jadi tantangan besar bagi tim produk untuk membuat barang sebagus mungkin agar tidak banyak pelanggan yang mengembalikan barang.

Berlanjut ke bagian kedua untuk kisah lebih lengkap.

MORE FROM MY SITE