Awas Jangan Salah, Ini 3 Strategi yang Benar Agar UMKM Bertahan

Banyak yang asal jiplak strategi, tanpa memahami makna seharusnya.
Banyak yang asal jiplak strategi, tanpa memahami makna seharusnya.

Pandemi yang berkepanjangan membuat para pelaku UMKM mencari strategi untuk bertahan. Ada yang strateginya berhasil, ada juga yang tidak.

Beberapa yang tidak berhasil ternyata salah menerapkan strategi. Mereka hanya meniru tanpa mendalami apa yang seharusnya dilakukan.

Nah, kesalahan seperti apa yang dimaksud? Lalu bagaimana sih menerapkan strategi yang benar? Kita bahas yuk.

1. Adaptif

Strategi adaptif adalah jenis strategi yang melibatkan penyesuaian berdasarkan perubahan yang ada. Adaptif bukan hanya sekadar beradaptasi dari offline ke online. Melainkan lebih dari itu.

Ambil contoh UMKM sirop Ramu Padu. Brand lokal ini tadinya lebih banyak mendistribusikan produknya ke hotel, restoran, kafe, dan semacamnya. Lalu pandemi datang dan mendorong mereka berubah.

Ramu Padu melihat ada perubahan perilaku dari konsumen selama pandemi, yakni mereka jadi lebih peduli pada kesehatan. Kebetulan, brand ini memiliki produk yang menggunakan bahan dasar bunga lokal yang tengah naik daun, yaitu bunga telang atau clitoria ternatea.

Dulu, bunga telang dianggap sebagai tanaman liar. Kini, bunga berwarna ungu ini dicari banyak orang karena manfaatnya untuk kesehatan.

Nah, Ramu Padu lantas membangun personal branding tentang sirop bunga telang ini. Mereka juga mengedukasi konsumen dengan "bungkusan" inovasi. Pemasaran dan porsi distribusi pun diubah dari prioritas B2B market jadi end user market. Ini baru adaptif.

2. Kolaboratif

Kolaborasi bukan sekadar kolaborasi dengan influencer untuk beriklan. Ambil contoh Blueberry Guitar, brand lokal yang membuat gitar ukiran khas Bali.

Pendirinya, I Wayan Tuges, adalah seorang seniman ukir yang andal. Tapi dia tak mengenal betul soal gitar dan cara memainkannya. Hingga kemudian ia bertemu dengan seorang musisi asal kanada, Danny Fonfeder.

Berkat kolaborasi keduanya, gitar ukirannya bisa terjual hingga ke Kanada, Jepang, Eropa, dan Amerika Serikat. Nilainya pun fantastis, hingga puluhan juta rupiah.

Nah, tidak hanya kolaborasi antara seniman dengan musisi, tetapi ada kolaborasi budaya juga. Meski dominan Bali, gitarnya berunsur seni Barat dan Timur. Sisi barat dari desain gitar, lalu sisi timur dari sentuhan ukiran.

Tak hanya itu, strategi kolaborasi juga terlihat dari bagaimana ia menggandeng para penyandang disabilitas sebagai pekerjanya. Dengan begitu, pelanggan makin tertarik karena selain mendapatkan produk berkualitas, mereka juga dapat memenuhi kebutuhan sosialnya. Itu baru kolaboratif.

3. Ikut Arus/Tren

Jangan sekadar ikut buka toko daring, tapi bergabunglah dalam ekosistemnya. Salah satu caranya kamu bisa mengikuti program Bangga Lokal.

Program ini semacam digital skilling untuk para pelaku UMKM. Selain untuk perkembangan keterampilan pengusaha, juga untuk pembinaan hingga promosi bisnis.

Program yang diinisiasi BCA ini juga menggandeng orang-orang top dalam dunia usaha. Jadi kamu bisa belajar langsung dari ahlinya, termasuk soal tren bisnis digital, tren platform, bagaimana menjaga hubungan dengan digital savvy, optimalisasi SEO, SEM, dan banyak lagi. Ini baru yang namanya mengikuti tren.

Sebagian pelaku UMKM, tidak sadar tidak menerapkan strategi yang benar. Kebanyakan merasa sudah melakukannya, lalu gagal dan tidak berusaha lagi. Padahal, setelah didalami, ternyata mereka hanya salah strategi.

Nah, yuk kita terapkan strategi bertahan yang benar. Agar transaksi lancar, bisnis pun makin besar.

Smart Money

Platform media masa kini yang memberikan insight seputar ekonomi, bisnis, industri dan gaya hidup.