Bakmi Naga Resto, Dari Gerobak Hingga Menggurita di Nusantara (1)

Bakmi Naga Resto, Dari Gerobak Hingga Menggurita di Nusantara (1)
Bakmi Naga Resto, Dari Gerobak Hingga Menggurita di Nusantara (1)

Pernah makan di restoran Bakmi Naga Resto? Restoran ini merupakan salah satu restoran yang menyajikan makanan oriental yang sudah sangat dikenal di Indonesia. Hampir di tiap pusat perbelanjaan atau mal, outlet Bakmi Naga Resto bisa dijumpai dengan mudah.

Namun, kesuksesan Bakmi Naga Resto tak datang dalam semalam. Butuh lebih dari 36 tahun hingga akhirnya bisa sesukses ini. Nyonya Liong merupakan sosok yang mendirikan Bakmi Naga pertama pada 1979.

Saat itu, usaha ini masih berskala usaha kecil dan menengah (UKM) berupa gerobak dorong. Pada awalnya, Nyonya Liong berjualan bakmi di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta dengan menu hanya bakmi.

Seiring perkembangan usaha dan perpindahan generasi, Bakmi Naga Resto pun bertransformasi menjadi sebuah waralaba yang tersebar di Sumatera hingga Ternate. Menurut Susanty Widjaya yang sekarang menjadi generasi ketiga yang memimpin Bakmi Naga Resto, sudah banyak terjadi perkembangan sejak 1979.

"Kini, kami sudah memiliki lebih dari 255 menu yang awalnya hanya dari bakmi dan bihun saja. Kami pun pernah mendapat penghargaan TOP Brand dan juga dari MURI sebagai restoran waralaba dengan jumlah menu terbanyak," ujar wanita yang saat ini menjabat sebagai Direktur Pemasaran dan Waralaba Bakmi Naga Resto itu.

Untuk cabang, Susanty bilang ada dua jenis, yakni company owned outlet yang merupakan cabang langsung dengan nama Bakmi Naga Ny Liong dan cabang waralaba dengan nama Bakmi Naga Resto dan Bakmi Naga Express.

"Keluarga memutuskan untuk melakukan waralaba pada 2010 ketika mulai banyak permintaan untuk waralaba dari luar pulau," katanya. Saat ini, Bakmi Naga sudah memiliki lebih dari 80 outlet baik cabang maupun outlet franchisee dan hampir tiap bulan selalu ada satu outlet baru dibuka.

Untuk menjaga standardisasi dalam bisnis waralabanya, beberapa perubahan telah dilakukan. Misalnya, saat ini Bakmi Naga Resto telah menggunakan sendok takaran untuk menjaga cita rasa dan agar rasa tidak berubah-ubah.

"Jadi, tidak ada lagi metode takaran sejumput atau segenggam untuk takaran bumbu seperti dulu," ujarnya. Selain itu, perubahan lainnya adalah, tata ruang dan desain restoran dibuat lebih minimalis, beserta ornamen yang lebih modern.

"Hal ini dilakukan karena kami mulai membidik pasar anak muda, dan kami ingin memberi tahu pada masyarakat bahwa, outlet Bakmi Naga Resto dan Express juga bisa digunakan untuk pertemuan-pertemuan," papar Susanty yang mulai terlibat di Bakmi Naga sejak 2009 itu.

Berlanjut ke bagian kedua untuk mengetahui kisah Susanty membawa perusahaan pada Bakmi Naga.