Henry Lukito Setiawan: Aktualisasi Diri Melalui Bisnis Pendidikan

Henry Lukito Setiawan: Aktualisasi Diri Melalui Bisnis Pendidikan
Henry Lukito Setiawan: Aktualisasi Diri Melalui Bisnis Pendidikan

Ada banyak pilihan jenis bidang bisnis di Indonesia. Tiap jenis bisnis memang mampu mendatangkan kepuasan tersendiri. Selain itu, ada bisnis-bisnis yang bila dijalani, ternyata mampu memuaskan batin mereka yang terjun langsung ke dalamnya.

Bisnis itu adalah bisnis pendidikan. Banyak pengusaha yang pada akhirnya mendirikan bisnis pendidikan demi mencari kepuasan batin. Setidaknya, hal itu yang kini sedang dilakukan Henry Lukito Setiawan sejak tahun lalu.

Setelah sukses dengan bisnis di bidang telekomunikasi HLS Telecom dan HLS Yamaha Music nya, Henry merasa sudah saatnya ia melakukan aktualisasi untuk dirinya sendiri melalui bisnis pendidikan fesyen dan interior.

Untuk itu, mari simak wawancaranya dengan Smart-Money.

Kenapa akhirnya terjun ke bisnis pendidikan?

Sebelumnya memang tidak terpikir untuk masuk bisnis sekolah atau pendidikan, khususnya sekolah desain fesyen dan interior. Kemudian, ada seorang teman yg memperkenalkan saya dengan bisnis pendidikan ini, sekolah fesyen dan interior.

Sebelumnya apakah memang punya latar di bidang tersebut?

Fesyen merupakan dunia yang menarik bagi saya meski sama sekali belum terpikir oleh saya ketika masuk ke dalamnya. Namun, saya sadar Indonesia sangat kaya dengan desain-desain dari seluruh Tanah Air.

Kemudian, saya juga mendapat dukungan dari Inter National Institute of Fashion Design ( INIFD) yang berpusat di India, untuk mendirikan sekolah fesyen dan desain interior ini. INIFD sendiri mengusung desain lokal dan internasional. INIFD juga sudah beroperasi di India, London, Chicago, Bangladesh, Dubai, Nepal

Mengapa INIFD?

India dan Indonesia memiliki beberapa kemiripan, mulai dari cara berpakaian dan hal-hal sejenisnya. Dan India adalah negara yang ahli di bidang tekstil Oleh karena itu, saya coba terjemahkan minat dari orang lokal kita seperti apa melalui sekolah ini.

Secara resmi, sekolah ini dimulai sejak Juni 2016. Secara umum, kurikulum banyak didukung INIFD. Mereka banyak menyiapkan bahan untuk publikasi dan bahan ajar.

Sebagai sekolah baru, bagaimana INIFD melakukan pemasaran?

Kami banyak melakukan publikasi, baik tulis maupun daring (online). Kami juga beberapa kali mengundang media. Kami juga dibantu oleh konsultan hubungan masyarakat (humas) terkemuka kami mendapat dukung penuh dari INIFD dan tim pengajar yang memang ahli di bidangnya.

Banyak pengajar kami yang merupakan lulusan Eropa, khususnya Prancis dan Milan. Jadi, kami memang dibantu tenaga pengajar yang fasih dalam dunia fesyen. Untuk standar pengajar sendiri, kami sudah sesuai standar INIFD pusat.

Untuk pemasarannya, kami lebih banyak memanfaatkan pameran dan workshop di mal. Untuk proses pengajaran, kami menggunakan bahasa Inggris.

Apa peran bapak di bisnis ini?

Saya sendiri lebih memegang urusan bisnis, untuk kurikulum dan pengajaran sudah ada ahli di bidangnya.

Peluang seperti apa yang dilihat dari bisnis ini?

Pangsa fesyen sangat luas. Jadi, kita bisa mencari tahu apa yang mereka butuhkan dan apakah mereka sudah cukup puas dengan kondisi yang sudah ada saat ini. Jadi, saya lihat pasar untuk mencari tahu tren apa yang sedang masuk.

Dari sini, saya bisa menentukan program apa yang akan kami buat di sekolah. Di awal, kami memang banyak melakukan publikasi dan workshop yang ternyata mendapat sambutan luar biasa.

Antusiasmenya besar dan banyak murid yang akhirnya kembali ikut kelas kami. Saat ini, kami sedang mengerjakan program pendidikan tahunan untuk program 1, 2, dan 3 tahun. Bisnis pendidikan ini memang menawarkan kepuasan yang berbeda.

Mungkin tidak banyak menghasilkan uang, tapi banyak menghasilkan kepuasan pada diri saya. Setidaknya kami bisa membekali orang lain atau anak didik dengan keterampilan agar mereka bisa menciptakan sesuatu.

Saya melihat, fesyen merupakan sarana untuk membentuk individu kreatif untuk menjadi bekal mereka di masa depan. Dunia fesyen sendiri siklusnya lebih pendek, jadi banyak yang mengambil program kelas pendek 3 bulan.

Kebanyakan memang kelas pendek. Rata-rata mereka sangat antusias. Hal serupa terjadi di kelas desain interior.

Pemanfaatan teknologi dalam kegiatan mengajar?

Kami menggunakan media ajar multimedia. Murid juga bisa mendapat pelajaran dari guru di Milan atau Prancis melalui panggilan video.

Rencana ekspansi?

Kami memang ada rencana untuk buka sekolah di kota besar lain seperti Medan dan Surabaya. Tapi, untuk sekarang kami ajak mereka (calon peserta didik) ke Jakarta dulu untuk merasakan seperti apa pengajaran dari sekolah kami.

Bila respons baik, ada kemungkinan kami buka sekolah di luar Jakarta. Untuk ekspansi sendiri, nanti bisa berupa kemitraan dengan orang lokal. Hal ini agar proses penetrasi lebih efektif karena mitra lebih mengerti kondisi daerahnya.

Harapan ke depannya?

Mudah-mudahan, sekolah kami bisa melahirkan para perancang muda yang terpandang di dunia fesyen. Hal terpenting, mereka yang bergabung dengan sekolah kami, bisa merasa nyaman dan bisa membuat sesuatu dari kemampuan mereka sendiri.

Dari sisi internal, saya berharap untuk terus bisa berinovasi. Mulai Dari kurikulum, mencari hal yang selalu sesuai dengan masyarakat dan bisa menjawab tantangan masa kini. Kami juga selalu menghargai nilai-nilai yang bersifat lokal.