Kisah Pengusaha Lokal yang Menutup Gerai & Berjualan Daring

Kisah Pengusaha Lokal yang Menutup Gerai & Berjualan Daring
Kisah Pengusaha Lokal yang Menutup Gerai & Berjualan Daring

Kemajuan teknologi membuat konsumen banyak yang memilih berbelanja secara daring (online). Alasan paling terlihat adalah karena fleksibilitas waktu dan tempat yang ditawarkan ketika berbelanja daring.

Jadi, tak heran bila banyak pengusaha mulai membuat toko daring. Seperti perancang busana Barli Asmara dan Direktur Bisnis Danjyo Hijoyi Danu Maulana. Keduanya mengaku mulai fokus pada penjualan daring setelah melihat penurunan pembelian di gerai mereka.

Seperti dilansir Kontan, Danu mengaku, sejak 2015 pihaknya mulai menutup satu per satu gerainya. Kemudian, ia mendirikan toko daring www.danjyohijo.com. Hasilnya, menurut Danu memang memuaskan.

Meski berat di awal karena stok yang menipis, namun dalam sebulan, Danu bisa menjual 500-1.000 potong pakaian dengan harga Rp350 ribu sampai Rp1,5 juta per potong pakaian. Sedangkan Barli menyiapkan BarliAsmara.id sudah sejak tahun lalu.

Barli yang juga bekerja sama JD.ID dan Zalora itu bisa memproduksi koleksi ready to wear modern mencapai 1.000 potong pakaian per bulan. Setiap satu potong pakaian, Barli mematok harga Rp450 ribu sampai Rp1 juta.

"Saat ini, perbandingan (penjualan) offline dan online sekitar 20:80," kata Barli dilansir Kontan. Ke depan, Barli mengaku akan terus akan fokus pada penjualan daring. Pada 2018, Barli mengaku akan menambah kerja sama e-dagang lain.

Dia juga akan memasang strategi penjualan secara langsung melalui webstore dengan pelayanan 1x24 jam. Menapaki penjualan pakaian daring, Barli mengaku mendapat sejumlah tantangan seperti persaingan dengan pemain ritel global seperti Zara dan H&M.

Kemudian, dalam hal teknis, ia juga mengaku kesulitan membuat rancangan pakaian yang detail dengan harga terjangkau. Padahal, di saat bersamaan, Barli mengambil langkah bisnis untuk mematok harga yang memang terjangkau demi bertahan di dunia fesyen.

Untuk bersaing dan bertahan, Danu mengaku akan menekuni media digital. Salah satu kendala yang ia hadapi dalam penjualan daring ini adalah tidak adanya interaksi secara langsung dengan konsumen dan tidak adanya database.

Padahal, interaksi ini bisa menjadi cara untuk menjelaskan produk. "Kadang, mereka butuh pegang bahan dulu," katanya. Di musim-musim ramai seperti Idulfitri atau jelang libur akhir tahun, tambahnya, dia juga biasanya membuat toko offline atau pop up store di bazar dan ajang sejenis untuk mengakomodir hal tersebut.

Jadi, bila kamu berencana masuk ke ke bisnis yang sama, ada baiknya mempertimbangkan cara Barli dan Danu tersebut.